Video

Pulau Kemaro Palembang Menjadi Simbol Cinta, Kisah Cinta Tan Bun An Dan Siti Fatimah

Dikisahkan, kisah cinta penuh perbedaan dijalani oleh dua insan beda keyakinan, etnik dan budaya tersebut.

TRIBUNSUMSEL.COM - Terletak sekitar 40 KM dari kota Palembang, Pulau Kemaro menjadi simbol cinta berujung tragis yang dialami Pangeran dari negeri Cina Tan Bun An dan Puteri Sriwijaya Siti Fatimah.

Dikisahkan, kisah cinta penuh perbedaan dijalani oleh dua insan beda keyakinan, etnik dan budaya tersebut.

Akhirnya setelah melewati berbagai rintangan pasangan yang sedang dimabuk cinta itu bisa sampai ke jenjang pernikahan.

Setelah menikah, mereka memutuskan untuk pergi ke negeri Cina. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan Siti Fatimah pada orang tua Tan Bun An disana.

Setelah itu, bersama para dayang dan pengawalnya mereka kembali ke bumi Sriwijaya.

"Tapi ditengah perjalanan, Tan Bun An yang merasa penasaran akhirnya membuka sembilan buah kendi yang dihadiahkan oleh orang tuanya sebagai hadiah pernikahannya,"kata Tjik Harun pengurus Pulau Kemaro.

Alangkah terkejutnya Tan Bun An, saat melihat isi kendi ternyata berupa sayur-sayuran. Seketika itu Tan Bun An marah dan langsung melempar kendi-kendi itu ke sungai.

Namun ternyata di dalam kendi juga terdapat emas-emas yang banyak. Rupanya orang tua Tan Bun An sengaja menutupi emas dengan sayur untuk melindungi barang berharga tersebut dari perampok.

Tan Bun An yang baru tahu hal mengejutkan tersebut, langsung saja melompat ke dalam sungai untuk mengambil emas-emasnya.

"Namun karena sang suami tak kunjung muncul kepermukaan, akhirnya putri Siti Fatimah juga ikut terjun ke dalam air dan akhirnya bernasib sama dengan Tan Bun An yang juga tidak muncul ke permukaan air,"ujarnya.

Kemudian para pengawal dan dayang yang melihat tuan dan putrinya tidak kunjung muncul ke permukaan air, akhirnya juga memutuskan untuk melompat ke sungai untuk menyelamatkan pasangan pengantin baru tersebut.

Namun, nasib berkehendak lain. Para pengawal dan dayang juga tidak ada yang muncul.

"Ini bisa ditarik benang merahnya, bahwa semuanya mengandung unsur cinta. Tan Bun An menyelam untuk menyelamatkan emas yang merupakan bukti cinta orang tuanya untuk dia. Kemudian putri Fatimah yang menyelam ke sungai untuk menyelamatkan suaminya sebagai bukti cintanya, serta para dayang dan pengawal yang juga turut menyelam ke air demi menyelamatkan majikannya. Semuanya berhubungan dengan cinta dan atas nama cinta"tutup dia.

Penulis: Shinta Dwi Anggraini
Editor: Abriansyah Liberto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved