Berita Pagaralam

Harga Jatuh, Petani Cabai Pagaralam Juga Hadapi Serangan Antrak Sehingga Turunkan Hasil Panen

Petani cabe Karang Dale, Fuddin, Minggu (10/2/2019) mengatakan, harga cabai merah di Pagaralam sejak 1 bulan terakhir mengalami penurunan

Harga Jatuh, Petani Cabai Pagaralam Juga Hadapi Serangan Antrak Sehingga Turunkan Hasil Panen
Sripo/ Wawan Septiawan
TANAMAN CABE : Tampak salah satu lahan tanaman cabe di Pagaralam yang terkena penyakit antrak. Hal ini menyebabkan hasil panen berkurang, Minggu (10/2/2019). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PAGARALAM -Petani cabai di Pagaralam meresakan harga anjlok dan hasil panen yang menurun.

Panen merosot karena tanaman cabai petani terserang penyakit antrak.

Saat ini harga jual cabai di tingkat peyani hanya Rp 10.000 per kilogram.

Harga tersebut tidak sebanding dengan biaya operasional sampai dengan pembelian pupuk dan pestisida.

Anjloknya harga cabai kali ini paling parah jika dibanding sebelumnya.

Padahal sebelumnya harga cabai di Pagaralam pernah diangka Rp100.000 perkilogram.

Salah satu petani cabe Karang Dale, Fuddin, Minggu (10/2/2019) mengatakan, harga cabai merah di Pagaralam sejak 1 bulan terakhir mengalami penurunan.

Truk Jatuh dari Jembatan, Hindari Lubang di Jalan Betung-Sekayu KM 72 Kemudian Hilang Kendali

5 Bulan Pasca Bercerai Sule Ungkap Perubahan Perilaku Anak-anak ke Dirinya, Jadi Lebih Dekat

"Akibatnya petani cabai mengalami kerugian dengan kondisi saat ini. Pasalnya harga yang ada tidak sebanding dengan biaya perawatan," ujarnya.

Saat ini sudah mencapai Rp10.000 perkilogramnya, padahal sebelumnya harga pasaran diberkisar Rp.25.000 hingga Rp27.000 perkilogramnya.

"Mungkin, salahsatu penyebab turunya harga ini disebabkan banyaknya petani yang menanam cabe dan panennya serentak hingga cabe di pasaran menjadi banjir," katanya.

Heriansyah (33 tahun) petani cabai memilik areal tanam 7.000 meter persegi di kawasan perbatasan Pagaralam juga mengaku, tidak hanya harganya yang anjlok namun buntung dialami lantaran areal tanaman cabenya diserang penyakit antrak dan kuning daun.

"Sejak panen ke empat tanaman cabenya sudah mulai diserang Antrak, buah cabe banyak yang kering belum lagi daunya banyak yang kuning," ujarnya.

Video : Warga Keluhkan Jalan Palembang-Betung Rusak Parah, Sebabkan Kemacetan Panjang

Reuni Perak 25 Tahun Alumni Yaktapena 94

Kondisi tanaman cabe lokal miliknya saat ini bisa dikatakan kurang perawatan.

"Awalnya sudah kita semprot dengan fungisida, bahkan serangan penyakit ini agar tidak menyebar ke tanaman lain terpaksa banyak yang kita cabut," ungkapnya.(SP/ wawan Septiawan)

Editor: Wawan Perdana
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved