Pabrik Gula PT Pratama Nusantra Sakti di Sumsel Mulai Beroperasi Tahun 2019

Pabrik gula yang telah beroperasi saat ini PTPN 7 Cinta Manis dan PT Laju Perdana Indah. diharapkan tahun 2019 beroperasi PT Pratama Nusantra Sakti

Pabrik Gula PT Pratama Nusantra Sakti di Sumsel Mulai Beroperasi Tahun 2019
Tribun Sumsel/ Linda Trisnawati
Asisten I Bidang Pemerintah dan Kesra Pemprov Sumsel, Ahmad Najib saat Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Dukungan Swasembada Gula, Budidaya dan Sistem Panen Tebu Perkebunan Tebu di Sumsel di Swarna Dwipa, Kamis (10/1/2019) 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG-Sesuai dengan komitmen Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) dalam mewujudkan lumbung pangan tentunya sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat swasembada pangan.

Asisten I Bidang Pemerintah dan Kesra Pemprov Sumsel, Ahmad Najib saat Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Dukungan Swasembada Gula, Budidaya dan Sistem Panen Tebu Perkebunan Tebu di Sumsel di Swarna Dwipa mengatakan, Pemprov Sumsel mendukung untuk kontribusi produksi gula guna mewujudkan swasembada gula nasional.

"Sumsel ada empat empat perusahaan perkebunan tebu yaitu PTPN 7 Cinta Manis, PT Laju Perdana Indah, PT Pratama Nusantara Sakti dan PT Pemuka Sakti Manis Indah, meskipun sebagian besar kebunnya masuk wilayah Provinsi Lampung," ujarnya, Kamis (10/1/2018).

Kecelakaan Travel Palembang-Baturaja, Fauzan Pengantin Baru Ini Kehilangan Istri dan Anaknya

Siswi SMAN 10 Jatuh dari Ampera, Jenazah Pertama Kali Ditemukan Nelayan

Lebih lanjut ia mengatakan, untuk pabrik gula yang telah beroperasi saat ini ada dua yaitu PTPN 7 Cinta Manis dan PT Laju Perdana Indah. diharapkan tahun 2019 beroperasi pabrik gula PT Pratama Nusantra Sakti.

Najib pun mengatakan, produksi gula dari dua pabrik gula tahun 2018 sebesar 77.670 ton/tahun sedangkan konsumsi gula di Sumsel 79.002 ton/tahun.

"Dengan beroperasionalnya satu pabrik gula di tahun 2019 ini maka diharapkan bisa mencukupi kebutuhan gula di Sumsel."

"Untuk saat ini pemerintah masih bisa membatasi impor yang masuk di Indonesia sebatas kebutuhan,"

"Namun kondisi tersebut tidak bisa berjalan dengan waktu lama. Maka perlu pembenahan internal dengan meningkatkan produksi," jelasnya.

Penulis: Linda Trisnawati
Editor: Wawan Perdana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved