Pilpres 2019
Bersyal Ala Kiai, Prabowo Serius Baca Buku Tambak Beras, Berisikan Perjuangan Membela NKRI
Akun Instagram Gerindra Sumut memposting foto Prabowo yang memakai kopiah dan syal sorban cirikhas kiai sembari membaca sebuah buku
TRIBUNSUMSEL.COM - Calon presiden Prabowo Subianto, dikenal sebagai pensiunan Komandan jenderal Kopassus (Danjensus).
Baca: Live Streaming Inggris Vs Spanyol di Supersoccer.tv Malam Ini Pukul 01.45 WIB, Tonton Disini
Selain itu, ia juga memiliki panggilan sandi Prabowo 08.
Baca: Diisukan Akan Dinikahi Ahok Awal Tahun Depan, Ayah Bripda PND Beri Jawaban Begini
Prabowo dikalangan anggota dan kader Gerindra, dinilai sebagai kutu buku karena hobinya membaca.
Baru-baru ini, akun Instagram Gerindra Sumut memposting foto Prabowo yang memakai kopiah dan syal sorban cirikhas kiai sembari membaca sebuah buku.
Baca: Polresta Palembang Ingatkan Masyarakat Berurusan Hukum Tidak Sembarangan Mengaku Keluarga Kapolri
Ditengah rutinitas beliau yang padat, Beliau menyempatkan diri membaca buku di kala waktu senggang. Memang beliau ini gemar membaca, bahkan di rumah nya pak prabowo sudah kayak perpustakaan, banyak koleksi buku disana. Bahkan pak prabowo sudah bisa membuat buku sendiri dan isi bukunya bagus lagi
Diketahui, buku yang sedang di baca oleh Prabowo berjudul Tambak Beras.
Buku tersebut dikutip dari berbagai sumber, dimana buku berjduul TambakBeras Menelisik Sejarah Memetik Uswah dengan tebal halaman mencapai 500 halaman dirilis 17 Agustus 2017.
Dalam buku tersebut, mengulas Pondok Pesantren Bahrul ulum Tambakberas jombang ini merupakan pondok pesantren tertua yang berada Di Kabupaten Jombang.
Pondok pesantren ini menyimpan banyak kisah-kisah Inspiratif dari para tokoh terkenal dan banyak menyimpan cerita yang Bersejarah.
Buku ini merupakan Mozaik serpihan kisah-kisah penting dan penuh Hikmah dari para Masyayikh , Kyai, Bu Nyai, Dan Ustadz atau Santri senior di pondok pesantren bahrul ulum tambakberas.
Kisah yang di dalam buku ini ada yang lucu, santai, dan serius, namun semuanya ada makna serta nilai yang bisa dipetik.
Diantaranya, bercerita tentang Sejarah para Masyayikh baik tentang kesederhanaanya, kesaktiannya, kedekatannya dengan masyarakat, humor yang mendidik, Pergolakan jagat politik, perjuangan membela NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), dan masih banyak lagi cerita-cerita lainnya.
Alur penyajiannya juga sengaja dibuat pendek-pendek dan dengan bahasa yang Ringan untuk menyesuaikan dengan para santri yang kebanyakan masih remaja.
Sekalipun demikian, buku ini juga Cocok untuk pemuda dan mahasiswa, karena terdapat sejarah penting yang ditulis dengan bahasa akademis atau ilmiah, tetapi mudah dipahami.
Mungkin ada diantara pembaca akan merasa 'masygul' ketika menemui cerita yang berbau Gaib (Gho'ib) atau yang di luar Nalar pemikiran.