Berita Palembang

Ada 240 Hotspot Selama Agustus 2018, 15 Helikopter Atas Karhutla di Sumsel

Titik panas di Sumatera Selatan di bulan Agustus tercatat ada 240 titik. Dimana rata-rata titik panas menyebar di Wilayah Musi Banyuasin

Ada 240 Hotspot Selama Agustus 2018, 15 Helikopter Atas Karhutla di Sumsel
TRIBUNSUMSEL.COM/M.A FAJRI
ilustrasi kebakaran lahan gambut 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Titik panas di Sumatera Selatan  di bulan Agustus tercatat ada 240 titik.

Dimana rata-rata titik panas menyebar di Wilayah Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir dan Muara Enim.

Ketua Posko Media Satuan Tugas Kebakaran Lahan dan Hutan BPBD Sumatra Selatan, Ansori mengatakan, karena titik panas ini sudah mulai terdeteksi banyak di Sumsel, maka fokus dari pemerintah pusat dan daerah yakni berkonsentrasi pada pemadaman kebakaran lahan.

Untuk itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengirimkan 11 helikopter ke Sumsel. Saat ini sudah ada 11 unit helikopter yang diturunkan BNPB untuk pemadaman karhurla di Sumsel.

Adapun 11 unit helikopter itu memiliki tugas dan fungsi yang berbeda diantaranya 9 helikopter khusus water bombing 1 khusus patroli, dan 1 unit lagi bisa patroli dan waterbombing.

Selain itu, juga ada bantuan 3 unit helikopter dari Sinar Mas yang difokuskan untuk waterbombing dan 1 lagi unit helikopter bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang juga difokuskan untuk pemadaman karhutla.

"Jadi totalnya ada 15 helikopter. Semuanya standby di Lanud Palembang, dan beroperasi sesuai dengan arahan dari Satgas Karhutla. Saat ini fokus kita di OKI, OI, Muba dan Muara Enim," ujarnya, Rabu (29/8/2018).

Selain dari waterbombing, pihaknya juga terbantu upaya memadamkan karhutla dengan tehnik modifikasi cuaca. Selain hujan buatan membantu padamkan api di lahan yang terbakar, hujan buatan ini juga ikut dalam membasahi lahan yang kering dan gersang.

"Terlihat beberapa hari ini sudah turun hujan. Setidaknya membantu memadamkan api, namun memang dari pantauan kita masih terjadi kebakaran lahan, utamanya di OKI, OI, Muba dan Muara Enim," terang Ansori.

Sementara itu Kepala Bidang Pelayanan Teknologi, Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca, BPPT Sutrisno mengatakan, dalam rangka menindaklanjuti arahan Rakor pengendalian Karhutla pada tanggal 25 Juli 2018 di Kantor Menteri Koordinator Bidang Perekonomian serta upaya pengendalian gangguan asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada saat penyelenggaraan Asian Games 2018, BBTMC-BPPT bekerjasama dengan BNPB sejak tanggal 30 Juli 2018 mulai melakukan kegiatan penanganan siaga darurat Karhutla melalui penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Provinsi Sumatra Selatan.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan pelaksanaan TMC periode pertama tanggal 16 Mei sd 10 Juni 2018. Pada periode kedua yang dimulai sejak tanggal 30 Juli pelaksanaan TMC didukung oleh 2 unit pesawat Casa 212-200 masing-masing dari 1 unit dari TNI Angkatan Udara dan 1 unit dari PT Pelita Air Service (PT PAS).

"Kegiatan TMC periode pertama (tanggal 16 Mei-9 Juni 2018 ) telah dilakukan 32 sorti penerbangan, 32 ton bahan semai, dan dengan hasil air 270 juta m3. Selama kegiatan periode pertama hampir setiap hari terjadi hujan dengan intensitas bervariasi dari hujan ringan hingga lebat, sehingga selama periode pertama kelembaban tanah bisa terjaga dengan baik dan mampu meredam munculnya hotspot," jelasnya.

Sedangkan Kegiatan TMC periode kedua ( 30 Juli-28 Agustus 2018) telah dilakukan 32 sorti, dengan hasil air 46 juta m3. Selama periode kedua pertumbuhan awan relatif lebih sedikit dibanding pada periode pertama, namun beberapa kali telah dijumpai awan yang masih layak semai dan menghasilkan hujan.

"Selama seminggu terakhir pertumbuhan awan di Sumsel cukup baik, pelaksanaan penyemaian awan menghasilkan air hujan yg signifikan dan mampu mematikan hotspot yg ada secara signifikan dan meredam munculnya hotspot baru. Berdasarkan prediksi, potensi pertumbuhan awan selama 2 minggu kedepan masih cukup baik, pelaksanaan penyemaian awan akan kita optimalkan terus," beber Sutrisno.

Penulis: Linda Trisnawati
Editor: M. Syah Beni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help