Berita Lubuklinggau

1 Anak Tewas Saat Tugu Peringatan Pahlawan di Lubuklinggau Terbakar, Sejarawan Kritik Pemerintah

Tugu Peringatan Pahlawan Nasional Kolonel Atmo itu dibangun untuk menghormati sosok pahlawan luar biasa asal Surakarta

Penulis: Eko Hepronis |
Tribun Sumsel/ Eko Hepronis
Tugu Monumen Perjuangan yang terletak di Kelurahan Dempo, Kecamatan Lubuklinggau Timur II tempat anak jalanan beristirahat terbakar 

Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Eko Hepronis.

TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU-Kondisi Tugu Peringatan Pahlawan Nasional Kolonel Atmo yang berada di rel Kereta Api Jalan Garuda Kelurahan Dempo, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, Kota Lubuklinggau saat ini makin memprihatinkan.

Aroma lem terasa langsung menyengat ketika memasuki sebuah ruangan tugu peringatan Pahlawan Nasional Kolonel Atmo Kota Lubuklinggau itu.

Beberapa anak muda terlihat hilir mudik dengan kaleng lem di tangan. Bahkan saat ini Tugu Peringatan Pahlawan Nasional Kolonel Atmo itu dijebol oleh Anak jalanan (Anjal) kemudian dijadikan tempat nongkrong dan istirahat.

Baca: Mundur Dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Asman Langsung Ditawari Job, Ini Tugasnya

Puncaknya Tina (15), seorang Anjal tewas ketika mereka tengah tidur bersama dua temannya didalam Tugu Peringatan Pahlawan Nasional Kolonel Atmo terjadi kebakaran.

Tina tewas diduga tewas karena kebanyakan menghirup asap, sementara dua orang rekannya harus menjalani perawatan serius diruang Unit Gawat Darurat (UGD) RS Sobirin Kabupaten Mura.

Tidak terawatnya Tugu Peringatan Pahlawan Nasional Kolonel Atmo itu menuai kritik dari Sejarawan Sumbagsel Suandi (74).

Baca: Nyaleg dari PDIP, Krisdayanti Ungkap Pesan yang Didapatkannya dari Megawati Soekarnoputri

Ia menuturkan Tugu Peringatan Pahlawan Nasional Kolonel Atmo itu dibangun untuk menghormati sosok pahlawan luar biasa asal Surakarta yang pernah bersekolah persenjataan di Belanda.

Sejarawan Sumbagsel Suandi
Sejarawan Sumbagsel Suandi (Tribun Sumsel/ Eko Hepronis)

"Karena ahli persenjataan kemudian ia bertugas sebagai seksi persenjataan di Subkos yang membawahi Sumatra Bagian Selatan (Sumbagsel)," kata Suandi saat dibincangi Tribunsumsel.com.

Ia mengenang saat itu Kolonel Atmo bertugas di Subkos sebagai ahli pemeriksa senjata. Bahkan ia juga bertugas layak dipakai atau tidak.

Baca: Pertandingan Asian Games 2018 Diacak, Ini Permasalahan yang Terjadi Menurut EMTEK Group

"Dia meninggal ketika ada senjata martir yang didatangkan dari Sawah Lunto, saat dalam pemeriksaan didaerah talang Jawa tiba-tiba meledak dan Kolonel Atmo gugur," paparnya.

Kemudian untuk mengenang jasa Kolonel Atmo, akhirnya dibangun monumen perjuangan pada tahun 1972 pada masa Bupati Muhtar Aman sekaligus dibuat taman makam pahlawan.

"Alasannya dibangun di Jalan Garuda karena pada tanggal 30 Desember 1945 ada 63 orang pahlawan tak dikenal gugur dalam pertempuran dan pernah dimakamkan disana sebelum dipindahkan ke makam Pahlawan," kata Suandi.

Baca: Heboh Polling Pilpres di Twitter, Ridwan Kamil Beberkan Analisa ini, Sudah Dibuktikannya Sendiri

Ketika disinggung apakah pernah mencoba memberi masukan kepada pemerintah terkait kondisi monumen saat ini, ia mengaku sudah sering beberapa kali memberikan masukan.

"Dibiarkan semacam itu tidak benar,
karena itu tempat mengenang sejarah Sumbagsel, harusnya dipagar, dipelihara. Kalau bisa dijaga petugas," ungkapnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved