8 Warga Empatlawang Positif Menderita Penyakit Kusta, Waspadai Penyebabnya

Junaidi, mengatakan, data awal pihaknya penderita kusta di Kembahangbaru sebanyak 27 orang.

8 Warga Empatlawang Positif Menderita Penyakit Kusta, Waspadai Penyebabnya
TRIBUNSUMSEL.COM
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Empatlawang, Junaidi 

EMPATLAWANG, TRIBUNSUMSEL.COM - Anggota DPRD Empatlawang dari Daerah Pilihan ( Dapil ) IV, Kecamatan Talangpadang, Ripana Suripno mengaku terkejut ketika mendengar informasi di Desa Kembahangbaru, Kecamatan Talangpadang ada sekitar 25 orang warga menderita penyakit kusta atau lepra.

Bersama tiga anggota DPRD lain dari Dapil yang sama mereka mengetahui informasi tersebut saat reses. Mereka telah mengkonfirmasi ke Puskesmas terkait mengenai hal ini dan mempertanyakan stok obat yang ada.

"Laporan yang kami terima ada 25 orang yang terkena kusta, ini sangat kami khawatirkan," kata anggota DPRD Empatlawang, Ripana alias Arip Kumis, Kamis (14/12/2017).

Arip mengatakan hal ini harus segera ditangani oleh Dinas Kesehatan Empatlawang agar tidak menular dan lebih parah. "Kasihan warga di situ, mereka agak takut," ungkapnya.

Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Epatlawang melalui bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit ( P2P),
Junaidi, mengatakan, data awal pihaknya penderita kusta di Kembahangbaru sebanyak 27 orang.

Namun setelah dicek medis dari 27 orang hanya delapan yang positif menderita kusta. Sementara 19 orang lagi bukan kusta melainkan terserang kuman lainya.

Dikatakan Junaidi delapan penderita kusta di Desa Kembahangbaru sudah diketahui sejak 2015, dan sampai saat ini masih dalam tahap pengobatan. Kebanyakan penderita merupakan usia produktif dengan umur 25 tahun ke atas dan di bawah umur 40 tahun. "Dari delapan orang penderita, tiga orang ada dalam satu keluarga," ungkap Junaidi.
Junaidi mengaku pihaknya kesulitan dalam pengobatan karena penderita kusta takut saat ada petugas medis datang. Selain itu penderita sungkan mendekati orang ramai dan tampak ada ketakutan dan rasa malu. Padahal sudah disampaikan ke kepala desa kedelapan penderita sudah ada yang lepas dan mengalami luka pada jari tangan.

"Pernah kami datang ke sana, malah ditinggal pergi ke kebun," ungkap Junaidi.

Menurutnya pihaknya berusaha menyampaikan sosialisasi kepada kepala desa untuk pengobatan secara terus menerus agar bisa sembuh. Tidak itu saja kata Junaidi, pihaknya telah menghubungi Rumah Sakit Kusta Dr Rivai Abdullah di Palembang.

"Petugas dari rumah sakit kusta sudah datang bersama kami ke sana untuk pengobatan," kata Junaidi.

Menurut berbagai sumber, kusta yang juga dikenal dengan nama lepra atau penyakit Hansen, adalah penyakit yang menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir pada saluran pernapasan atas, serta mata. Kusta bisa menyebabkan luka pada kulit, kerusakan saraf, melemahnya otot, dan mati rasa.

Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini memerlukan waktu 6 bulan hingga 40 tahun untuk berkembang di dalam tubuh. Tanda dan gejala kusta bisa saja muncul 1 hingga 20 tahun setelah bakteri menginfeksi tubuh penderita.

Penemuan kasus baru untuk penyakit kusta di Indonesia tergolong tinggi. Indonesia menempati uratan ketiga, setelah India dan Brasil, untuk penemuan kasus baru penyakit kusta pada tahun 2015.

Sebenarnya kusta adalah penyakit yang dapat diobati, namun adanya stigma negatif di masyarakat seringkali menyebabkan munculnya diskriminasi terhadap penderitanya. Stigma negatif dan diskriminasi ini berakibat kepada penemuan kasus baru dan pengobatan yang tertunda. (cr27/sp)

Editor: Eko Adiasaputro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help