Waduh, Masih Ada Suami Larang Anak-Istri ke Posyandu

Masih ada di lingkungan masyarakat, urusan membesarkan anak menjadi tanggung jawab kaum ibu.

Penulis: Lisma Noviani | Editor: Lisma Noviani
TRIBUNSUMSEL
Slamet Widodo warga desa Tanjungagung Barat Kec Sungailais telaten menyuap anaknya Askia. Baginya ikut mengasuh anak bukan hal yang tabu, demi tumbuh kembang anak yang baik. 

TRIBUNSUMSEL.COM, MUSI BANYUASIN - Anggapan bahwa mengasuh anak adalah urusan domestik kaum ibu masih sangat melekat di lingkungan masyarakat. Dari mulai mengandung, melahirkan hingga membesarkan, mutlak menjadi kewajiban ibunya.

Sementara ayah, identik untuk mencari nafkah dan urusan lain di luar urusan anak dan rumah tangga.

Hal ini dirasakan Novi Yunita Sari SKeb, fasilitator Kampanye Gizi Nasional (KGN) IMA World Health di kecamatan Sungai Lais.

Novi sejak Oktober 2017 melakukan pendampingan dan pemantauan pelaksanaan program gizi nasional di wilayah ini dan cukup banyak mengamati perilaku dan budaya masyarakat dalam pola asuh anak.

Novi melihat masih ada di lingkungan masyarakat, urusan membesarkan anakhanya  menjadi tanggung jawab kaum ibu. Bahkan lebih ekstrem lagi, masih ada ayah yang justru melarang istri dan anak untuk pergi ke pos pelayanan terpadu (Posyandu) untuk pemeriksaan kesehatan.

"Terutama kalau mau imunisasi, ada bapak-bapak yang marah dan melarang istri dan anaknya untuk ke posyandu, sampai istrinya harus diam-diam pergi ke Posyandu," kata Novi dibincangi Tribun di sela-sela kegiatan perayaan Hari Kesehatan Nasional (HKN) dipusatkan di Puskesmas Sungai Lais, Selasa (21/11).

Di kecamatan Sungai Lais, ada tiga Puskesmas yakni Puskesmas Sungailais, Telukkijing dan Gardu Harapan, dengan 37 unit posyandu tersebar di desa-desa.

"Setiap Posyandu itu ada sekitar 50-an ibu yang memiliki baduta. Nah sekitar 5-10 persennya itu, yang ayahnya sepertinya masih belum sepenuhnya mendorong anak dan istri untuk ke posyandu," kata Novi.

Kondisi ini mendorong Novi dan para kader posyandu untuk terus mensosialisasikan pentingnya pola asuh orangtua yang baik dalam mendorong pemenuhan gizi dan kesehatan anak secara bersama-sama.

Hal yang sama diungkapkan Leni Atriana SKM MKM, Pengelola Program Gizi Dinas Kesehatan Musi Banyuasin. Stigma membesarkan anak bukan urusan ayah, masih melekat di masyarakat Muba yang mayoritas hidup di lingkungan perdesaan.

"Pola asuh anak yang hanya membebankan kepada ibu masih banyak terjadi. Ini selalu menjadi prioritas kita untuk menyadarkan kaum bapak, melalui kader-kader posyandu yang menyentuh langsung masyarakat," ujarnya.

Leni menjelaskan, kerja sama tim antara ibu dan ayah wajib dilakukan terutama dalam hal pemenuhan gizi anak di 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Banyak yang harus diperhatikan dalam mengawal tumbuh kembang anak hingga usia dua tahun.

Peran ayah di sini selain ikut mengasuh anak, juga memberi semangat istri untuk keukeuh memberikan makanan yang sehat dan baik untuk anak.

"Anak bin di belakang namanya itu nama bapak, tidak ada bin nama ibu. Maka dari itu kalau sampai ayahnya cuek dan tidak mau ikut mengasuh anak, itu sangat disayangkan. Peran ayah dengan ikut terlibat mengasuh anak itu sangat penting," kata Leni.

Dari Mandiin, Sampai Nyuapin

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved