Berita OKU Timur

Update Harga TBS Kelapa Sawit di OKU Timur Turun Jadi Rp2.700 per Kilogram, Petani Mengeluh

Kondisi tersebut dikeluhkan oleh para petani sawit di Kecamatan Jayapura, Kabupaten OKU Timur.

Tayang:
Penulis: Choirul Rahman | Editor: Sri Hidayatun
Tribunsumsel.com/Choirul Rahman
HARGA SAWIT TURUN -- Petani sawit di Kecamatan Jayapura, Kabupaten OKU Timur, menunjukkan hasil panen Tandan Buah Segar (TBS) yang saat ini dijual seharga Rp2.700 per kilogram, Selasa (9/6/2026). Penurunan harga dari sebelumnya Rp3.000 per kilogram dikeluhkan petani karena terjadi di tengah tingginya biaya pupuk dan bibit. 

Ringkasan Berita:
  • Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani Kabupaten OKU Timur kembali merosot pekan ini menjadi Rp2.700 per kilogram, setelah sebelumnya sempat menyentuh angka Rp3.000 per kilogram.
  • Fluktuasi harga yang cepat ini membuat para petani di Kecamatan Jayapura mengeluh karena kesulitan menentukan waktu yang tepat untuk menjual hasil panen mereka. 
  • Kondisi ini kian pelik lantaran mahalnya biaya produksi seperti pupuk dan bibit, yang membuat margin keuntungan petani semakin menipis.

TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA – Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani kembali mengalami penurunan.

Setelah sempat berada di kisaran Rp3.000 per kilogram, harga sawit pada pekan ini merosot menjadi Rp2.700 per kilogram.

Kondisi tersebut dikeluhkan oleh para petani sawit di Kecamatan Jayapura, Kabupaten OKU Timur.

Mereka menilai fluktuasi harga yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir membuat petani kesulitan menentukan waktu yang tepat untuk menjual hasil panen.

Salah seorang petani sawit di Kecamatan Jayapura, Wira, mengatakan bahwa naik turunnya harga sawit bukanlah persoalan baru bagi petani.

Menurutnya, harga komoditas tersebut kerap berubah dalam waktu singkat sehingga menyulitkan mereka dalam menghitung keuntungan usaha perkebunan.

"Naik turun harga sawit ini sudah lama terjadi. Harga sering tidak stabil, sehingga kami bingung menentukan waktu yang tepat untuk menjual hasil panen," ujarnya, Selasa (9/6/2026).

Wira menuturkan, saat ini kebun sawit miliknya baru mulai menghasilkan buah sehingga jumlah produksi yang dipanen masih terbatas. Dari lahan yang dikelolanya, hasil panen yang diperoleh baru sekitar lima ton TBS.

Baca juga: Harga Sawit di OKI Tembus Rp2.800 per Kg, Petani Kini Bisa Napas Lega

"Karena tanaman masih baru berbuah, hasil panen kami belum banyak, baru sekitar lima ton. Ketika harga turun seperti sekarang, tentu sangat berpengaruh terhadap pendapatan petani," katanya.

Menurut Wira, penurunan harga sawit semakin terasa karena biaya produksi yang harus dikeluarkan petani terus meningkat.

Harga pupuk dan bibit yang relatif mahal menjadi kendala tersendiri bagi petani yang ingin meningkatkan produktivitas kebunnya.

Selain menghadapi ketidakstabilan harga, petani juga harus menanggung tingginya biaya perawatan tanaman. Kondisi ini membuat margin keuntungan yang diperoleh petani menjadi semakin kecil.

"Harga pupuk dan bibit masih cukup mahal. Kami berharap ada perhatian dan dukungan agar petani bisa terus mengembangkan kebun sawit yang ada," tambahnya.

Petani berharap harga TBS dapat kembali membaik dan lebih stabil sehingga memberikan kepastian usaha bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilannya pada sektor perkebunan kelapa sawit.

Dengan harga jual yang saat ini berada di angka Rp2.700 per kilogram, petani berharap ada keseimbangan antara harga komoditas dan biaya produksi agar usaha perkebunan sawit tetap memberikan keuntungan yang layak.

Baca berita lainnya di google news

Ikuti dan gabung di saluran WhatsApps Tribunsumsel.com

Sumber: Tribun Sumsel
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved