Berita Banyuasin
Jerit Perajin Gerabah di Banyuasin Terdampak Dolar Naik dan Antrean Solar, Terpaksa Batasi Produksi
Perajin gerabah di Kabupaten Banyuasin mengeluhkan merosotnya penjualan di tengah harga bahan baku yang kian melambung naik.
Penulis: M. Ardiansyah | Editor: Shinta Dwi Anggraini
Ringkasan Berita:
- Melemahnya rupiah dan sulitnya mendapat solar juga berdampak pada perajin gerabah di Kabupaten Banyuasin.
- Menghadapi lonjakan modal dan sepinya pembeli luar kota, perajin kini hanya memproduksi gerabah jika ada pesanan masuk.
- Pemilik usaha memilih pasrah dan membatasi produksi demi menghindari kerugian besar akibat bahan baku yang terbuang sia-sia.
TRIBUNSUMSEL.COM, BANYUASIN -- Perajin gerabah di Kabupaten Banyuasin mengeluhkan merosotnya penjualan di tengah harga bahan baku yang kian melambung naik.
Kondisi ini terjadi seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dan sulitnya truk mendapatkan BBM jenis solar sehingga membuat biaya angkut juga naik.
Untuk itu, para perajin kini menyiasatinya dengan hanya membuat gerabah sesuai pesanan dari orderan yang masuk.
Hal ini diungkapkan Dedi, pemilik Gerabah Dedi yang berada di Jalintim Palembang-Betung KM 16, Kelurahan Tanah Mas Indah, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin.
Dikatakan Dedi, sudah sejak tiga minggu ini terjadi kenaikan harga bahan baku berupa tanah liat yang digunakan untuk membuat gerabah.
Tidak hanya tanah liat yang mengalami kenaikan, kayu bakar dan cat juga mengalami kenaikan harga.
"Sekarang harga tanah liat itu satu truknya sudah Rp1,8 juta dari sebelumnya Rp1,5 juta. Belum lagi kayu bakar, yang sebelumnya Rp1,5 juta, sekarang sudah Rp2 juta per truknya. Semuanya sudah naik dan memang kondisi dolar naik, kami pembuat gerabah juga terdampak dengan kenaikan harga bahan baku," ujar Dedi, Selasa (9/6/2026).
Lanjut Dedi, dengan kenaikan harga bahan baku, mau tidak mau gerabah yang dijual juga harus ikut dinaikkan.
Setidaknya, harga yang dinaikkan paling kecil Rp200 per gerabah atau sesuai gerabah.
Kenaikan yang terjadi di bahan baku juga berdampak pada pesanan gerabah yang ada di Gerabah Dedi.
Selama ini, banyak pesanan yang datang dari luar kota, tidak hanya Sumsel tetapi juga luar Sumsel.
Namun, saat ini pesanan lebih cenderung sepi dan pembuatan gerabah juga tidak bisa dilakukan secara masif.
"Sekarang, buat gerabah kalau ada pesanan saja. Kalau tidak ada pesanan tidak berani karena nanti siapa yang mau beli. Gerabah yang dipesan masih kisaran gentong kecil, pot bunga sedang, dan celengan. Itupun yang pesan masih di wilayah Banyuasin dan Palembang saja, untuk di luar itu sekarang sudah sepi," ungkapnya.
Dedi mengungkapkan, sebagai pelaku UMKM seperti dirinya, ketika ada dampak rupiah terhadap dolar dan bahan bakar yang sulit diperoleh truk membuat biaya angkut menjadi naik, sangat dirasakan.
Makanya, ia memilih untuk membuat gerabah ketika ada pesanan dari pelanggan atau orang yang datang ke tempatnya.
| Pedagang di Banyuasin Bingung, Ngaku Kesulitan Mendapatkan Stok Beras Curah dan SPHP |
|
|---|
| Mahasiswa di Banyuasin Ditangkap Polisi Usai Curi Motor Tetangga, Ngaku Terdesak Kebutuhan Ekonomi |
|
|---|
| Disalahkan Warga Soal Jalan Rusak Bergelombang, Bupati Banyuasin Ultimatum Sopir Truk Sawit |
|
|---|
| Kepergok Curi Kabel Listrik Milik Perusahaan,Dua Pria di Banyuasin Ditangkap Polisi |
|
|---|
| Kebakaran di Banyuasin, Dua Rumah Hangus Terbakar Diduga Akibat Tabung Gas Bocor |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Jerit-Perajin-Gerabah-di-Banyuasin-Terdampak-Dolar-Naik-dan-Solar-Langka-Terpaksa-Batasi-Produksi.jpg)