Seputar Islam

Makna Kemerdekaan dalam Pandangan Islam dan Alquran, Kisah Umar bin Khattab dan Para Nabi

Kemerdekaan ini seyogyanya kita syukuri dengan sebaik-baiknya syukur. Namun perjuangan menegakkan keadilan, kesejahteraan harus terus dilanjutkan

Tayang:
Penulis: Lisma Noviani | Editor: Lisma Noviani
Tribunsumsel.com
MAKNA KEMERDEKAAN -- Ilustrasi anak memegang bendera merah putih, berikut makna Kemerdekaan dalam Pandangan Islam dan Alquran, Kisah Umar bin Khattab dan Para Nabi. 

TRIBUNSUMSEL.COM — Kemerdekaan adalah hak setiap individu manusia, hak segala bangsa. Negeri aman, makmur, sentosa adalah impian semua orang, tidak terkecuali.

Sangat tepat sekali, para pemimpin bangsa merumuskan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa.

Alquran sebagai firman Allah, mengabadikan salah satu doa Nabi Ibrahim Alaihissam terhadap kota Makkah dalam Surat Al Baqarah ayat 126.
 
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Artinya:
(Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.” (QS. al-Baqarah [2]: 126). 


Kemerdekaan identik dengan kebebasan, kedaulatan, kemandirian, dan otonomi. Setiap anak lahir ke dunia dalam keadaan merdeka.

Dikutip dari laman mirror.mui.or.id, jauh di zaman Sayyidina Umar binKhattab RA telah menegaskan tentang  pemikiran bahwa hakikat manusia mempunyai hak kemerdekaan sejak dia dilahirkan.

Ada satu kisah populer mengenai pernyataan Umar soal kemerdekaan manusia. Suatu ketika, anak dari ‘Amr bin ‘Ash, Gubernur Mesir saat itu mengikuti lomba, salah satu sumber menyebut perlombaan tersebut adalah pacuan kuda.

Yang mengikuti perlombaan tidak hanya kalangan elite macam anak Gubernur, melainkan juga budak dari kalangan Kristen Koptik.

Budak tersebut berhasil mengalahkan anak Gubernur, tak disangka sang anak Gubernur tersebut malah memukul budak itu seraya berkata, “Aku putra orang terhormat!”

Peristiwa ini dilaporkan orang tua si budak langsung ke hadapan khalifah Umar di Madinah. Tak elak, Sayyidina Umar memerintahkan ‘Amr bin ‘Ash dan anaknya menghadap.


Setelah menghadap, Umar memberi pecut kepada budak untuk membalas perbuatan anak ‘Amr. Setelah selesai, singkat cerita, Umar berkata di hadapan publik, perkataannya ini cukup populer :


 متى استعبدتم الناس وقد ولدتهم أمهاتهم أحراراً ؟

Arab latin:

Mataa istu'badtumun naasa wa qad waladat-hum ummahatuhum ahraaran?

Artinya:

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved