Berita Banyuasin
Cerita Poniah Penderita Kanker Payudara Buruh Batu Bata di Banyuasin, Suami Sakit Tak Bisa Jalan
Cerita Poniah, penderita kanker payudara yang menjadi buruh batu bata di Banyuasin. Suaminya menderita sakit tak bisa jalan tanpa dibantu tongkat.
Penulis: M. Ardiansyah | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUNSUMSEL.COM, BANYUASIN - Cerita Poniah, penderita kanker payudara yang menjadi buruh batu bata di Banyuasin.
Poniah harus menjadi tulang punggung keluarga menggantikan suaminya yang sakit tak bisa mencari nafkah.
Tak semudah yang dibayangkan, Poniah pengidap kanker payudara mau tidak mau harus tetap bekerja agar keluarganya bisa tetap makan.
Poniah, bersama anak pertamanya bekerja di tempat pembuatan batu bata yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya di LK 1 Kelurahan Sukajadi Timur Kecamatan Talang Kelapa Kabupaten Banyuasin.
Tugasnya, membuat dan juga mengangkut batu bata yang sudah jadi ke atas truk untuk dikirim ke pembeli. Setiap hari, pekerjaan itu harus dilakoninya meski pendapatan dari bekerja seperti itu tidaklah besar.
"Sehari dapat upah Rp 30 ribu. Anak juga ikut, jadi ada tambahan upah. Sehari dapat Rp 60 ribu, kalau dipikir tidak cukup untuk makan, untuk biaya sekolah anak yang kecil. Tapi, mau tidak mau harus tetap dilakukan," katanya, Jumat (21/7/2023).
Baca juga: Anas Urbaningrum Ketum PKN, Pimda Sumsel Siap Dukung Penuh Menangkan Pemilu 2024
Karena pekerjaan yang berat tersebut, sering kali Poniah mengalami sakit di bagian payudaranya. Hal ini, karena efek dari kanker payudara yang diidapnya sejak 2017 lalu.
Namun, sakit yang ditimbulkan tak pernah dirasakannya karena bila ia tidak bekerja maka hari itu ia dan keluarganya tidak dapat makan.
"Sejak suami sakit tahun 2017, suami tidak bisa bekerja lagi. Meski sekarang sudah mulai membaik, tetapi kaki kirinya tidak bisa lagi digerakkan maksimal dan berjalan harus menggunakan tongkat," ungkapnya.
Sedangkan Hartono mengaku, ia dulu bekerja sebagai sopir truk pengangkut batu bata. Sempat mengidap penyakit kuning, setelah berobat dan sembuh.
Namun, ia kembali terkena diabetes hingga membuat kakinya cacat. Dia tidak bisa jalan jika tidak dibantu tongkat.
"Sekarang di rumah saja, karena untuk aktivitas atau bekerja sudah kesulitan. Berjalan saja pakai tongkat, jadi tidak bisa bekerja berat seperti dulu apalagi menyetir mobil," katanya.
Dari itulah, ia berharap bisa memiliki modal untuk berjualan kecil-kecilan di depan rumah. Sehingga, bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Sedangkan Camat Talang Kelapa Salinan yang ditemui di rumah Poniah menuturkan, mereka mendapatkan informasi terkait ada warga yang merupakan suami istri mengalami sakit yang cukup parah.
"Kamj datang diminta bapak bupati untuk memberikan bantuan sembako dan santunan. Selain itu, kami juga sudah berkoordinasi dengan dinas kesehatan agar keduanya bisa mendapatkan pengobatan dari pemerintah," kata Salinan.
Baca berita lainnya langsung dari google news
Silakan gabung di Grup WA TribunSumsel
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Cerita-Poniah-penderita-kanker-payudara-yang-menjadi-buruh-batu-bata-di-Banyuasin.jpg)