Berita Ogan Ilir

Pencemaran Embung Desa Bakung Ogan Ilir, Perusahaan Janji Siap Tanggung Jawab

Dampak pencemaran anak sungai dan embung Desa Bakung, Indralaya Utara, Ogan Ilir, Sumsel, PT Bakung Starch Lestari (BSL) berjanji siap tanggung jawab.

Tayang:
TRIBUNSUMSEL.COM/AGUNG DWIPAYANA
Direktur PT Bakung Starch Lestari (BSL), Handoko. Kondisi air embung di Desa Bakung yang tercemar limbah pabrik pengolah ubi. 

TRIBUNSUMSEL.COM, INDRALAYA - Dampak pencemaran anak sungai dan embung Desa Bakung, Indralaya Utara, Ogan Ilir, Sumsel, PT Bakung Starch Lestari (BSL) berjanji siap bertanggung jawab.

PT BSL merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi tepung tapioka di wilayah Desa Suka Mulia, Kecamatan Indralaya Utara.

Dalam kurun waktu hampir satu tahun, perusahaan tersebut telah tujuh kali melakukan kegiatan produksi tepung tapioka.

Beberapa hari lalu, limbah dari kegiatan produksi mencemari anak sungai dan embung di Desa Bakung yang juga berada di wilayah Indralaya Utara.

Baca juga: LIPSUS: Penantang Petahana Tebar Janji, Kandidat Cagub Tes Ombak, Bupati hingga Mantan Pejabat -1

Kondisi embung dan aliran anak sungai tersebut berbusa dan mengeluarkan bau menyengat, apalagi dengan banyaknya ikan mati.

Direktur PT BSL, Handoko menerangkan, terjadi losses atau hilangnya sejumlah pangan pada tahapan produksi tepung tapioka.

"Sehingga limbahnya mencemari embung masyarakat," kata Handoko kepada wartawan di Indralaya, Selasa (4/7/2023).

Saat terjadinya losses berbarengan dengan dimulainya musim kemarau sehingga volume air di embung berkurang dan tidak mengalir.

Dengan adanya peristiwa ini, PT BSL menegaskan siap bertanggung jawab menangani dampak pencemaran ini, terutama soal kebutuhan air bersih.

"Kami sudah menyediakan air bersih untuk kebutuhan mandi cuci kakus atau MCK. Juga bantuan air minum satu galon untuk setiap rumah, ada puluhan kepala keluarga yang terdampak," jelas Handoko.

Dilanjutkannya, pihak perusahaan juga sedang melakukan normalisasi anak sungai dan embung agar limbah dapat mengalir.

Sebuah alat berat disiapkan di salah satu titik lokasi embung yang tercemar, untuk melaksanakan normalisasi tersebut.

Untuk kebutuhan air bersih dalam jangka panjang, PT BSL akan membangun sumur bor di dua titik di Desa Bakung.

"Kami, perusahaan sedang membersihkan limbah yang ada di anak sungai dengan menggunakan alat berat. Sumur bor akan digarap," terang Handoko.

Sebelumnya embung penampungan air di Desa Bakung, Kecamatan Indralaya Utara, Ogan Ilir, tercemar oleh limbah pabrik pengelohan ubi.

Kondisi embung dan aliran anak sungai di Desa Bakung yang berbusa dan mengeluarkan bau menyengat, beredar di media sosial.

Pantauan di lapangan pada Minggu (2/7/2023), aliran anak sungai yang tercemar berada di dua desa.

Selain Desa Bakung, wilayah di Kecamatan Indralaya Utara yang terdampak juga ada di Desa Suka Mulia.

Kepala Desa Bakung, Suharman mengungkapkan, memasuki musim kemarau, volume air di embung berkurang sehingga tidak mengalir.

"Sejak lima hari lalu, warga mengeluhkan air yang terindikasi (tercemar) limbah perusahaan pengolahan ubi yang ada di hulu anak sungai," kata Suharman, Minggu (2/7/2023).

Suharman dan perangkat Desa Bakung lalu mendatangi pabrik pengolahan ubi tersebut.

Setelah dicek ternyata ada kebocoran Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) perusahaan, sehingga limbah mengalir ke anak sungai.

Menurut Suharman, pihak perusahaan bertanggung jawab dengan menyediakan air bersih untuk kebutuhan mandi cuci kakus atau MCK.

Selain itu, sebanyak 30 kepala keluarga di Desa Bakung yang terdampak pencemaran limbah, mendapatkan bantuan air minum.

"Bantuan satu galon air minum per kepala keluarga, selain air bersih untuk MCK," jelas Suharman.

Selama proses pembersihan limbah pada embung dan anak sungai, lanjut Suharman, pihak perusahaan juga akan membangun sumur bor di dua titik.

"Perusahaan berjanji akan membersihkan limbah yang ada di sungai dengan menggunakan alat berat. Sumur bor akan digarap," ujar Suharman.

Menurutnya, baru kali ini terjadi kebocoran IPAL sejak perusahaan tersebut beroperasi satu tahun lalu.

"Makanya dampak pencemaran limbah sangat terasa saat memasuki musim kemarau," jelasnya.

Sementara saat coba dikonfirmasi, pihak perusahaan tempat pabrik pengolahan ubi sedang tidak beroperasi.

"Sebaiknya kalau mau ke sini bisa hari Senin, karena hari ini libur," kata seorang petugas jaga perusahaan tersebut.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved