Kapolres Lubuklinggau AKBP Harissandi

Profil AKBP Harissandi Kapolres Lubuklinggau, Jejak Karir Lulusan AKPOL 2000

Profil AKBP Harissandi Kapolres Lubuklinggau  Polda  Sumatera Selatan (Sumsel). lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2000.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Eko Hepronis | Editor: Yohanes Tri Nugroho
TRIBUNSUMSEL.COM/EKO
Kapolres Lubuklinggau Sumatera Selatan (Sumsel) AKBP Harissandi 

Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Eko Hepronis

TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU-- Profil AKBP Harissandi Kapolres Lubuklinggau  Polda  Sumatera Selatan (Sumsel).

AKBP Harissandi  merupakan Perwira menengah kelahiran Surabaya, pada 23 Maret 1978.

AKBP Harissandi merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2000.

Di Polres Lubuklinggau AKBP Harissandi menggantikan AKBP Nuryono yang saat itu pindah tugas menjadi Kapolres OKU Timur.

Dibalik karir suksesnya sekarang, siapa sangka saat lulus Akpol tahun 1997 orang tuanya sempat menjual sofa  untuk modal keberangkatannya menuju Magelang.

"Waktu itu ketika saya mendaftar Polisi buat ongkos ke Magelang, ibu saya sampai-sampai jual kursi (Sofa) ," ungkap Harissandi mengawali cerita pada Tribunsumsel.com, Rabu (15/3/2023).

Alasan orang tuanya jual kursi itu kala itu karena sedang kesulitan keuangan, kakak tertuanya kala itu sedang duduk dibangku kuliah, sedangkan adiknya duduk dibangku SMA.

"Ketika saya pulang cuti pertama saya kaget, saya lihat kursi di ruang depan sudah tidak ada, saya tanya buk dimana kursi sopa, jawaban ibu saya diperbaiki nak, saya kira waktu itu memang betul diperbaiki," ujarnya.

Namun, setelah Harissandi selesai dan dinyatakan lulus pendidikan Akpol, ibunya baru bercerita bila kursi sopa yang katanya diperbaiki itu sebenarnya dijual untuk ongkos keberangkatannya ke Magelang.

"Ketika sudah lulus saya pulang baru ibu saya cerita kalau kursi itu di jual buat ongkos ke Magelang,"ungkapnya.

 

Awal Mula Masuk Akpol

 

Harisandi pun bercerita sejak duduk dibangku SMA diwilayah Pamekasan ia memang sudah membulatkan tekad ingin masuk sekolah kedinasan, kebetulan ayahnya seorang bintara Polisi ia pun memilih jadi Polisi.

"Saya ingin masuk Polisi karena orang tua saya seorang Polisi, bagaimana caranya saya tiga bersaudara kakak saya kuliah adik saya SMA, karena biaya besar itu, saya langsung cari sekolah ikatan dinas biar bisa mengabdi kepada bangsa dan negara," ujarnya.

Lika liku perjuangannya tidak mudah, sebelum dinyatakan lulus Harissandi sempat gagal masuk Akpol, bahkan, ketika berkunjung di tempat ayahnya bertugas ia sempat disarankan teman-teman ayahnya untuk masuk Bintara saja.

"Tapi saya katakan saya tetap mau nyoba Akpol dulu, akhirnya berkat doa orang tua dan ibu selalu mensuport, saya keterima masuk Akpol, walau pun sempat gagal tahun 1996 dan kedua kalinya 1997 baru lulus," ungkapnya.

Lulus menjadi taruna Akpol tahun 2000 merupakan suatu kebanggan tersendiri bagi Harissandi dan orang tuanya. Karena menurutnya di wilayah Madura kala itu yang bisa lulus Akpol itu hanya anaknya Bupati, Jaksa, dan bos tembakau.

Bahkan ia mengenang, dari daerahnya itu satu-satunya taruna Akpol yang saat itu menggunakan angkutan bus hanya ia dan temannya, sementara temannya yang lain  diantar orang tuanya pakai mobil.

"Sementara saya hanya anak Polisi biasa, saya dan teman saya itu sekarang pangkatnya juga Letkol angkatan laut, kami naik bus, waktu itu sangat terharu sekali, bisa mengajak kedua orang tua saya ke istana negara termasuk kakak dan adik saya," ujarnya.

Menurut Harissandi kesuksesannya sebagai seorang Polisi saat ini tak lepas dari doa orang tuanya terutama doa dari ibunya yang tak pernah lelah mendukungnya ketika gagal.

"Doa ibu itu sangat manjur sekali, ayah saya sudah meninggal tahun 2007 lalu, ibulah yang melahirkan kita, dan setelah saya jadi saya memang bertekad ingin membahagiakan orang tua terutama ibu dan adik saya," ungkapnya.

 

Jejak Karir

 

Setelah dinyatakan lulus Akpol tahun 2000 Harissandi pertama kali berdinas di Polda DIY Yogyakarta.

Awalnya ia bertugas sebagai anggota satuan Brigadir Mobil (Brimob) biasa, kemudian dua tahun kemudian atau tahun 2002 pindah ke bidang reserse.

Sejak saat itu karir Harissandi lebih banyak dihabiskan di bidang reserse.

"Kenangan tak terlupakan saya pernah mengungkap 48 pucuk senjata api di Polda DIY dapat penghargaan PTIK," ungkapnya.

Harissandi juga sempat ditugaskan di Aceh selama setahun, ia pun berhasil menorehkan banyak prestasi mulai pengungkapan tindak kejahatan narkoba dengan barang bukti 15 hektar ladang ganja dan menangkap pelaku narkoba dengan barang bukti 33 kilogram sabu-sabu.

Sebelum mengikuti Pendidikan Sespimen Polri, ia juga memiliki beberapa prestasi dalam bidang Tindak Pidana Siber atau Kasubdit Siber Polda Jatim pada tahun 2018.

Bahkan, selama menjabat sebagai Kasubdit Siber Polda Jatim Harissandi berhasil menangani beberapa kasus yang mendapat perhatian publik.

"Tahun 2019 saat Pilpres dan maraknya hoax di mana-mana saya bisa mengungkap prostitusi online artis (almarhum Vanessa Angel) dan mendapatkan penghargaan," ungkapnya.

Bahkan, ia pernah menangani kasus  ujaran kebencian Gus Nur atau dikenal Sugik Nur yang diketahui pada waktu itu menghina Nahdlatul Ulama (NU).

Serta pengungkapan kejahatan siber internasional lainnya pernah diungkapkan,
akhirnya ia pun diganjar penghargaan dari Kedutaan Konjen Amerika.

"Kunci sukses dalam itu disiplin yang keras dan tidak boleh bohong dengan orang tua, itu kalau pingin berhasil," ujarnya.

 

Baca Berita Lainnya di Grup Whatsapp Tribun Sumsel

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved