Wawancara Eksklusif Tribun Sumsel

H Halim Palembang, Orang Terkaya Blak-blakan Ungkap Prinsip Hidup, Patuh Pajak Takut Tuhan

H Halim Palembang, orang terkaya blak-blakan ungkap prinsip hidup, patuh pajak karena takut Tuhan.

TANGKAP LAYAR YOUTUBE SRIPOKU
H Halim Palembang, orang terkaya blak-blakan ungkap prinsip hidup, patuh pajak karena takut Tuhan. H Halim saat wawancara eksklusif dengan Kepala Newsroom Tribun-Sripo, Hj Weny Ramdiatuti. 

TRIBUNSUMSEL. COM, PALEMBANG - H Halim Palembang, orang terkaya blak-blakan ungkap prinsip hidup, patuh pajak karena takut Tuhan.

Sosok Kms H Abdul Halim Ali tidak asing bagi masyarakat Sumsel.

Selain sebagai orang kaya, selama ini Pak Haji doyan sedekah dan patuh pajak.

Apalagi setiap di Bulan Ramadhan, pria yang akan berusia 85 tahun pada September nanti, mengaku perusahaannya selama ini taat pajak.

Hal ini terlihat dari penghargaan yang telah didapatkan sebagai pengusaha yang patuh pajak.

Menurut H Halim, dengan dirinya selaku pengusaha membayar pajak, bisa ikut andil dalam proses pembangunan yang ada termasuk di Sumsel.

Baca juga: Jadwal Kapal Cepat Express Bahari Palembang Bangka 2023, Harga Tiket VIP dan Eksekutif

Dirinya mengaku miris, adanya petugas pajak yang memiliki kekayaan tidak wajar yang diduga dari korupsi yang bertolak belakang dari keinginan masyarakat dan pengusaha yang selama ini patuh kewajibannya membayar pajak.

Apalagi jika hanya pedagang kecil yang harus membayar pajak.

Menurutnya hasil pajak itu benar-benar tepat sasaran peruntukannya, bukan dimanfaatkan oknum petugas pajak memperkaya diri.

"Aku langsung ketemu dengan Kanwil Pajak, aku sudah bicarakan kami yang benar bae (saja) , kalau pedagang yang hanya buat fotokopi, lapak kecil, penjual pisang goreng dak usahlah (pajak). Aku langsung ngomong itu dak bagus apalagi yang jual pempek banyak uwong kita ini yang gerobak itu, dan sekarang sudah habis tidak ada pribumi yang jual itu," kata H Halim.

Apalagi selama ini dirinya patuh pajak itu bukan takut sama nominal uang yang harus dibayar untuk pajak melainkan karena takut dengan Tuhan, pajak itu kewajiban dirinya selaku pengusaha.

"Apalagi yang terjadi baru- baru ini ada petugas pajak pak Rafael (mantan Pejabat Ditjen Pajak Rafael Alun Trisambodo) itu dak enak nian, uwong susah nah patuh pajak termasuk kami. Sebenarnya aku bukan takut dengan pajak, tapi takut dengan Tuhan karena akan marah. Termasuk tukang pajak nah maksa marah-marah, bayar pajak itu kalau untung, kalau rugi nah bayar pajak apa itulah persoalannya, "paparnya.

Meski patuh dengan pajak selama ini, H Halim sendiri enggan mengungkapkan besaran yang harus ia bayar, tapi hal itu bisa dilihat dari tim akuntan dan konsultannya.

"Susah nyebutkannya, begini saja ada laporan akunting, konsultan bukti pak Haji bayar pajak ada penghargaannya bayar setiap tahun, ada beberapa perusahaan aku dapat penghargaan dan yang terbesar serta yang terbaik. Jadi dunia dilaksanakan, akhirat juga jangan dilupakan, karena kita akan kembali kesana, pajak dak usah ditagih aku bayar apalagi sedekah zakat itu wajib 2,5 persen harta kita sisihkan, dak boleh orang lain harus kita sendiri agar kita tahu bersyukur, supaya ditambah lagi harta itu tambah lagi kepercayaan Allah SWT kepada kita, itu baik itu, " ungkapnya.

Apalagi ditambahkan H Halim, jika memiliki harta, setiap umat muslim berkewajiban untuk membayar pajak kepada negara, sesuai petunjuk ulama.

"Pajak itu penting jika tidak dibayar ya menurut ulama-ulama kita nak masuk surga terhambat karena pajak itu juga. Pajak itu sepanjang manfaatnya oleh pemerintah ini bangun jalan, air bersih dan pembangunan, sehingga pajak itu perlu, " tambahnya.

Di sisi lain, sudah menjadi tradisional dan pesan leluhur menjelang Ramadhan dirinya dan keluarga selalu memberikan sedekah, kepada puluhan ribu warga di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) khususnya kota Palembang.

"(Sedekah) sudah pesan leluhur lah setiap Ramadan tergantung rezeki, banyak kasih banyak sedikit ya kasih sedikit, yang penting setiap Ramadan itu harus diadakan itu terutama di awal Ramadan. Jadi awal sedekah itu satu hari Ramadan paling lambat kedua hari itu sudah dibagi itu berupa bingkisan. Jadi istilah sekarang ini paket sembako berisi ada beras ada gula, kopi, minyak goreng dan segala macam lah, sembako untuk umum masyarakat itu yang sudah- sudah tergantung rezeki lah yang tadi 10.000 paket," bebernya, walaupun masa pandemi Covid-19 dirinya tetap memberi sedekah dan zakat.

Disamping memberikan paket sembako, pihaknya juga membagi mukena atau jilbab yang biasanya dibagikan pada awal Ramadhan untuk dilaksanakan sholat Tarawih saat Ramadhan di tempat nya dengan mengundang sejumlah ulama ternama seperti Ustadz Abdul Somad , Ali Jaber dan sebagainya yang diundang.

"Sekarang jilbab itu dibagi awal ramadhan, tapi tanggal 7 Ramadhan harus selesai karena setelah itu kami nama persiapkan lagi untuk adakan haul orang tua saya, dari sini diadakan tarawih bersama ulama-ulama itu diadakan sampai tanggal 23 Ramadhan, kegiatan kami sudah tujuh hari tadi sudah mempersiapkan untuk zakat dicatat siapa-siapa yang terutama yang banyak anak tapi untuk dia menghadapi Lebaran ya mungkin dia agak kesulitan itu kita bantu nah itu yang pertama terutama janda- janda," tandasnya, seraya kebiasaan ini sudah dilakukannya sejak tahun 1960an lalu.

Diungkapkan pengusaha karet dan sawit ini, berbicara manfaat sedekah itu banyak sekali menurutnya dan tuhan yang lebih tahu.

"Mungkin terutama badan sehat kedua Alhamdulillah usaha itu mulai dari nol terus meningkat sampai sekarang, Alhamdulillah aku rasa dari keluarga dan masyarakat sekitar sudah terbantukah yang kami bisa bantu kami bantu tidak ditolak, sekicil apapun bantuan kami lakukan meski saat ini sulit seperti beberapa tahun ini. Tapi kami tidak sampai seperti itu, prinsip aku sekarang sekarang ya asal pacak sedekah jadilah dulu, bisa bayar karyawan dengan keluarga itu sedekah tidak untung dululah perusahaan dak apa, yang penting sedekahnya dan bayar pajak itu penting.

Dilanjutkan H Halim, dalam memberikan sedekah ia pun selalu memberikan sama yang ia gunakan, bukan barang sisa.

"Contoh beras yang diberikan di paket itu saja, berasnya aku makan dulu tanya anak-anak buah aku ini di dapurnya dibuat oleh pembantu selancar apa gitu, dan jumlahnya sekali itu bisa puluhan ton kemarin dak ada disini kami pesan di Jakarta, itu ada tiga truk beberapa ton selancar walaupun dia ada apa yang kita makan Kita sedekahkan itu yang benar kalau yang lah tidak dimakan kita sedehkahkan itu dosa, " tuturnya.

Termasuk juga pihaknya tidak memberlakukan antre untuk pemberian sedekat atau zakat ke masyarakat yang membutuhkan.

"Tidak boleh (antre) karena dapat sedekah itu hak mereka (kaum fakir miskin), jadi kalau sedekat orang yang miskin itu nanti cuma dapat 5 kilo beras, atau kurma cuma kotak atau setengah kilo minyak goreng dibagi-bagi kan, bahaya tapi harus diantar sesuai ajaran Rasulullah Sayidina Umar Sayyidina Abu Bakar lecet-lecet pundak ini mikul gandum untuk dibagikan kepada orang yang miskin. Jadi enggak boleh (antre) termasuk zakat itu dak boleh karena hak dia nian 2,5 persen itu. Jangan antre beduso kita apalagi sampe pingsan dan boleh ditanya sekitar ini, tunggulah ditempat ada namanya sekian puluh ribu namanya yang dibagikan dan dianter panitia dan itu hak dia, " tukasnya.

Dilanjutkan H Halim, ia berharap kedepan usaha barunya yang mulai dirintis yaitu bisnis batubara bisa terealisasikan. Jika dengan bisnis itu berjalan, maka sedekah dan zakatnya bisa kembali lebih besar lagi.


"Nah,sekarang ini ada lagi usaha baru yang ini yang itu harapkan ini batubara, itu kan kalau andai kata ini bisa jalan dan bagus itu bisa menambah lagi sedekah kami," pungkasnya.

Baca berita lainnyalangsung dari google news

Silakan gabung di Grup WA TribunSumsel

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved