Berita Palembang
Mengenal Tradisi Munggah Pernikahan Adat Palembang, Ungkapan Kebahagian Setelah Akad
Mengenal tradisi munggah pernikahan adat Palembang merupakan ungkapan kebahagiaan setelah akad.
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Mengenal tradisi munggah pernikahan adat Palembang merupakan ungkapan kebahagiaan setelah akad nikah.
Kota Palembang memiliki banyak tradisi dan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan, seperti tradisi munggah yang dilakukan setelah pernikahan. Munggah juga disebut acara puncak didalam prosesi pernikahan adat Palembang.
Tradisi munggah dilakukan setelah prosesi pernikahan. Prosesi ini diawali dengan kedatangan rombongan pengantin pria yang membawa sejumlah barang hantaran.
Selain didampingi oleh orang tua dari pengantin pria, di dalam rombongan tersebut juga disertakan juru bicara dari keluarga pengantin pria. Begitu juga ada juru bicara pengantin wanita.
Kemudian ada ponjen atau tempat uang, yang isinya koin logam dan dituangkan ditempat yang sudah disediakan. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi gendong anak, dipertemukan antara pengantin pria dan wanita.
Lalu dilanjutkan dengan suap-suapan dari pihak keluarga pria maupun wanita dari sisi ibu-ibu atau yang wanita dan dilanjutkan cacap-cacapan oleh bapak-bapak, baik dari keluarga pria maupun wanita.
Baca juga: Libur Nataru 2022, PT KAI Palembang Siapkan 42.732 Tiket, KA Ekonomi Terjual 95 Persen
Salah satu pasangan pengantin yang mengadakan tradisi munggah yaitu pasangan Nyayu Firda dan Keanu Prasetio Adi.
Firda merupakan anak dari H Kgs Zainal Arifin dan Hj Nyimas Rahmawati dan Keanu anak dari Adi Data dan Widowati Iskandar.
"Munggah adalah kebahagiaan setelah dilakukan akad nikah," kata Zainal Arifin atau yang dikenal Zainal Songket saat di Gedung Zainal Songket yang ada di Jalan Ki Gede Ing Suro, Sabtu (17/12/2022)
Menurutnya, budaya atau tradisi di Sumsel mulai jarang digunakan. Banyak masyarakat enggan menggunakan adat yang ada dalam prosesi pernikahan. Bahkan banyak yang dicampur-campur dengan budaya luar, sehingga tidak tercermin adat Palembang.
"Padahal budaya bukan hanya sekedar budaya, melainkan untuk pelajaran juga. Kalau kita tidak melestarikan budaya atau tradisi yang ada artinya tidak cinta budaya," ungkapnya.
Baca berita lainnya langsung dari google news
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Mengenal-tradisi-munggah-adatpernikahan-Palembang-ungkapan-kebahagiaan-setelah-akad.jpg)