Berita OKI

Melihat Keuntungan Petani di OKI Tanam Jagung di Sawah Saat Musim Kemarau

petani di Desa Lubuk Makmur, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten OKI Tanam Jagung di Sawah Saat Musim Kemarau

TRIBUNSUMSEL.COM/AGUNG
Ngadimin, salah satu petani jagung hibrida di Dusun 3, Desa Lubuk Makmur, Kecamatan Lempuing Jaya saat memanen dilahan miliknya, Selasa (5/12/2022) pagi. 

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG -- Musim kemarau membawa berkah bagi para petani di Desa Lubuk Makmur, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Lantaran hasil panen jagung hibrida yang mereka tanam terbilang sukses dan melimpah.

Dari pantauan Tribunsumsel.com di dusun 3, terlihat puluhan petani sedang melakukan panen raya pasca menunggu 3 bulan dari waktu penanaman.

Seperti halnya Ngadimin, pemilik 1 hektar lahan jagung hibrida yang terpaksa mengalih fungsikan lahan persawahan setiap kali memasuki musim kemarau.

"Alasan saya bersama petani lainnya menanam jagung karena waktu musim kemarau memang bagus ditanami jagung," tuturnya saat ditemui setelah panen, Selasa (6/12/2022) pagi.

Berdasar hitungan hasil panen saat ini, menurut Ngadimin sangat bagus dengan hasil panen berkisar 5 ton/hektar.

"Setelah dipanen, nantinya jagung akan parut diambil bijinya saja dan dijemur sampai kering. Untuk harga pipil kering mencapai Rp 3.700/kg," tuturnya.

Dikatakan tanaman jagung menjadi pilihan berdasarkan cuaca, karena saat kemarau lahan persawahan di Desa Lubuk Makmur air dari irigasi tidak mencukupi untuk tanam padi tiga kali.

Jadi, setelah tanam padi para petani beralih tanam palawija atau hortikultura seperti cabai dan kacang panjang.

"Disini total ada sekitar 30 hektar tanaman jagung yang ditanam dilahan persawahan. Jadi dalam setahun kami 2 kali menanam padi dan saat musim kemarau diganti menanam jagung hibrida ini," tuturnya.

Menurutnya, selain harga yang menguntungkan, musim tanam kali ini juga jauh dari serangan hama ulat dan jamur. Kedua hama itu biasanya menyerang tanaman umur dua minggu sampai satu bulan.

Tanaman jagung rawan sekali adanya serangan hama ulat yang bisa menggagalkan panen karena menyerang tunas. Sehingga tanaman tidak bisa berkembang.

"Kami tidak melakukan penyemprotan (anti) hama. Alhamdulillah hasil panen bagus melimpah sekarang," sambung penduduk transmigrasi tersebut.

Hal senada diucapkan, Nasikun mengaku senang dengan hasil panen jagung di lahan miliknya.

Baca juga: 635 Pendaftar PPK Pemilu 2024 OKI Lulus Seleksi Administrasi, ini Jadwal Tahapan Selanjutnya

Selain harga jual yang menguntungkan, ia juga merasa terbantu dengan modal bibit jagung berkualitas yang diberikan pemerintah sebanyak 5 kilogram setiap hektar.

"Menurut saya keuntungan dari menanam jagung ataupun padi sama saja. Misalnya misal kita Rp 5.000.000 keuntungan juga bisa lebih dari Rp 5.000.000 atau bisa dikatakan untungnya satu kali lipat," tuturnya singkat.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved