Berita Muara Enim untuk Rakyat

Gubernur Sumsel akan Evaluasi Perusahaan Tambang dan Angkutan Batubara

HD meminta Pemerintah daerah bersama instansi terkait seperti Dishub, Kepolisian dan sebagainya untuk duduk bersama mencari jalan keluar yang terbaik.

Editor: Lisma Noviani
TRIBUN SUMSEL/LINDA TRISNAWATI
Ada tiga dugaan kasus gagal ginjal akut pada anak di Sumsel, Jumat (21/10/2022), tanggapan dari Gubernur Sumsel H Herman Deru. 

TRIBUNSUMSEL.COM, MUARA ENIM ---Gubernur Sumsel H Herman Deru berjanji akan mengevaluasi seluruh perusahaan tambang batubara dan transportasi yang beroperasi di wilayah provinsi Sumsel dan Kabupaten Muara Enim khususnya.


Hal ini disebabkan makin maraknya keluhan masyarakat Muara Enim khususnya dan Sumsel pada umumnya terhadap aktivitas penambangan dan angkutan batubara.

"Memang ini sepertinya ada yang salah dilapangan, untuk itu saya minta kepada OPD terkait untuk mengevaluasinya sehingga tahu kesalahan tersebut dimana," ujar HD, sapaan akrab H Herman Deru usai melakukan Ground Breaking pembangunan Turap penahan Sungai Enim di Jembatan Enim I Muara Enim, Senin (21/11/2022).

Menurut Herman Deru, bahwa penyebab banyaknya permasalahan yang timbul akibat angkutan batubara itu bermacam-macam.

Bisa jadi akibat kondisi kendaraannya tidak layak, bisa jadi karena muatannya overload, bisa jadi over dimensi, bisa jadi human error dan banyak lagi kemungkinan penyebabnya.


Untuk itu, ia meminta kepada Pemerintah daerah bersama instansi terkait seperti Dishub, Kepolisian dan sebagainya untuk duduk bersama mencari jalan keluar yang terbaik.

"Saya minta Pemerintah daerah nanti memanggil seluruh perusahaan tambang dan transportasi batubara untuk mencari jalan keluar supaya tidak lagi ada gesekan di masyarakat," harapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, bahwa masyarakat Kabupaten Muara Enim mengeluh dan resah atas tingginya intensitas angkutan batubara yang melintas di Kabupaten Muara Enim melalui jalan umum.

Pasalnya akibat aktivitas tersebut telah menyebabkan menjadi sumber kemacetan, debu, bising, kecelakaan lalu lintas.

Bahkan tidak jarang juga kendaraan angkutan batubara tersebut sampai menabrak rumah dan tiang listrik yang menyebabkan Kota Muara Enim harus menderita gelap gulita hingga 17 jam.

Dan puncak kekesalan warga Muara Enim nekat secara spontan melakukan aksi penyetopan ditengah jalan. Dan akibat aksi tersebut jika tidak dicari solusi yang baik tidak menutup kemungkinan kedepan akan menimbulkan konflik sosial di masyarakat.(ari)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved