Berita Palembang
OPINI: Pindang, Menjaga Lingkungan Melalui Kuliner
Pindang adalah salah satu jenis kuliner yang bisa diangkat sebagai identitas masyarakat Sumsel.Sudah didaftarkan sebagai warisan budaya tak benda.
Oleh : Dr. Yenrizal, M,Si.
(Akademisi Komunikasi Lingkungan UIN Raden Fatah)
HAMPIR bisa dipastikan ragam kuliner tradisional yang ada di Indonesia bertumpu pada keadaan lingkungan alam setempat. Dari Papua sampai Aceh, semua berasal dari apa yang ada di sekitar masyarakat tersebut, dari bahan baku sampai bumbu.
Itu juga sebabnya kenapa kuliner di Nusantara begitu beragam dan kaya akan bumbu, karena memang memiliki ragam tanaman dan hewan yang bisa diolah menjadi makanan. Kayanya jenis makanan disebabkan Indonesia memang kaya akan sumber daya alam. Ada korelasi antara keadaan alam dengan kuliner yang diciptakan.
Untuk Sumatera Selatan (Sumsel) dikenal salah satu jenis masakan yang tersebar di semua daerah Kabupaten dan Kota, itulah Pindang. Kuliner satu ini memiliki perbedaan dengan jenis Pindang yang ada di provinsi lain, seperti Jawa Tengah. Pindang di Sumsel memiliki ciri khas kuah yang cenderung menyengat (lebih menjurus ke pedas), berwarna sesuai campuran bumbu yang diberikan, dan kaya akan rempah-rempah.
Jenis Pindang yang tertua di Sumsel adalah Pindang Ikan dengan berbagai jenis, khususnya ikan air tawar. Belakangan dikembangkan variasi-variasinya seperti Pindang Daging, Pindang Tulang, dan Pindang Telur, tetapi bentuk dasarnya adalah Pindang Ikan.
Sampai saat ini belum ditemukan referensi kuat tentang asal usul dan sejarah kuliner satu ini. Tetapi untuk hipotesis awal bisa dikatakan bahwa Pindang adalah masakan khas dan berasal dari Sumsel. Setidaknya ini bisa dilihat dari bahan baku utama yaitu Ikan, Bawang Merah, Daun Bawang (Jembak), Serei, dan Cabe. Tambahan bumbu lain seperti Nanas, Asam Jawa, Kunyit, dan Terasi bisa dikatakan adalah variasi-variasi yang kemudian semakin memperkaya rasa masakan berkuah ini. Bahan baku utama di atas adalah bahan-bahan yang memang ada dan banyak ditemukan di Sumsel.
Sebagai sebuah masakan khas, Pindang memiliki perbedaan dengan jenis kuliner lain yang sudah lebih dulu dikenal, misalnya Pempek. Tetapi Pempek hanya dikenal di Palembang atau sering disebut Pempek Palembang. Ini berbeda dengan Pindang yang jenisnya tersebar hampir di semua daerah, sehingga dikenal sebutan Pindang Sekayu, Pindang Pegagan, Pindang Musi Rawas, Pindang Pagar Alam, Pindang Meranjat dan lainnya. Penyebutan Pindang merujuk pada daerah asal dikembangkan, yang sebetulnya identik dengan nama sungai masing-masing daerah.
Di sini saya ingin katakan bahwa Pindang adalah salah satu jenis kuliner yang bisa diangkat sebagai identitas masyarakat Sumsel. Kuliner ini juga sudah didaftarkan sebagai warisan budaya tak benda. Hanya saja branding dan menjadikan Pindang sebagai ikon, hal itu yang belum terlalu kuat. Memang dimana-mana akan ditemukan warung ataupun Rumah Makan/Restoran Pindang, mulai dari kelas kaki lima, hingga ke level bintang 5. Tetapi untuk level yang lebih luas dan menjangkau banyak kalangan, Pindang belum tampak kuat.
Identitas diperlukan, karena sampai sekarang harus diakui Sumsel belum memiliki satu ikon andalan yang akan menjadi ciri khas dan penanda daerah ini. Pempek memang sudah dikenal, tapi Pempek adalah Palembang, bukan Sumsel. Mengambil contoh bisa dilihat dari Rendang yang sudah mendunia dan jadi identitas warga Sumatera Barat ataupun Minangkabau.
Kenapa Pindang layak dijadikan identitas? Pertama, karena kuliner ini ada di semua daerah di Sumsel. Citarasa masing-masing daerah berbeda, tapi bahan baku dasarnya sama. Kedua, kuliner ini sudah dikenal pada semua kalangan, baik rakyat bawah sampai kalangan atas, semua kenal dan tahu dengan jenis ini. Hampir semua masyarakat juga bisa membuatnya. Ketiga, sejak awal hingga sekarang, Pindang tidak mengenal strata. Ia bukan makanan Sultan, kuliner para raja atau khusus pejabat. Ia adalah masakan rakyat yang bisa dan boleh dikonsumsi siapa saja. Keempat, Pindang dari Sumsel punya ciri khas tersendiri dibanding masakan di daerah lain yang punya sebutan sama. Siapa yang mencicipi Pindang pasti tahu bahwa ini dari Sumsel. Kelima, dengan keleluasaan dalam meracik bumbu, maka Pindang sebetulnya bisa diterima semua kalangan dan semua jenis lidah. Pedas atau asamnya bisa menyesuaikan tergantung selera masing-masing. Keenam, dengan bahan baku utama adalah ikan dan rempah, maka Pindang bisa dikatagorikan makanan yang sehat. Tak ada penyedap, tak ada pengawet, dijamin tak terkendala kolesterol ataupun darah tinggi. Bahkan Pindang bisa juga menjadi alternatif pengobatan dengan komposisi tertentu.
Sementara itu, Pindang adalah jenis kuliner yang akrab dan ramah lingkungan. Ada keterkaitan jelas antara melestarikan Pindang dengan keutuhan dan kelestarian alam. Dikarenakan bahan baku utama adalah ikan dan rempah, maka kehadiran Pindang juga tergantung pada ketersediaan bahan utama ini. Selagi ragam ikan masih ditemukan di Sumsel, selama itu pula Pindang tak akan hilang di Bumi Sriwijaya. Sebaliknya jika ikan sudah punah atau berkurang jenisnya, makan Pindang juga akan menyesuaikan diri.
Hal yang sama juga pada rempah sebagai bumbu. Semua adalah tanaman yang ditemukan dengan mudah di pekarangan atau kebun warga.
Pada titik ini tampak keterkaitan penting antara Pindang dengan menjaga keutuhan alam. Harus diakui pula bahwa sekarang ini, ragam Pindang sudah mulai berkurang yang disebabkan oleh bahan bakunya yang semakin sulit. Jenis yang selalu ada dan mudah didapatkan adalah Pindang Patin, karena memang ikan ini mudah didapat dan banyak dibudidayakan. Tetapi jenis ikan lainnya sudah mulai sulit bahkan langka.
Sebagai contoh, tidak semua rumah makan sekarang menyediakan Pindang Ikan Gabus, Pindang Ikan Toman, apalagi jenis lain seperti Pindang Ikan Tapa. Kenapa sulit, karena memang jenis ikannya sudah susah didapat. Kalaupun ada, harganya sudah demikian tinggi.
Jenis ikan di Sumsel hidup sesuai dengan kondisi perairan yang ada. Setidaknya terbagi menjadi ikan air dalam (seperti di hilir Sungai Musi), ikan air deras (hulu Sungai Musi), dan ikan rawa. Habitat ini tentu saja memerlukan kondisi yang baik dan asri. Ikan akan sulit hidup jika kondisi air sudah tercemar atau sudah berkurang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Akademisi-Komunikasi-Lingkungan-UIN-Raden-Fatah-Dr-Yenrizal-MSi-mengulas-pindang.jpg)