Berita Empat Lawang

Cerita Petani Lada Empat Lawang, Kalah Cepat dengan Walang Sangit, Sekali Panen Cuma Dapat 50 Kg

Cerita pemilik kebun lada di Empat Lawang, kalah cepat dengan walang sangit hama tanaman menyebabkan buah runtuh dari tangkai. Hasil panen anjlok.

Penulis: Sahri Romadhon | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/SAHRI ROMADHON
Cerita pemilik kebun lada di Empat Lawang, kalah cepat dengan walang sangit hama tanama. Sekali panen cuma dapat 50 kg, Rabu (28/9/2022). 

TRIBUNSUMSEL.COM, EMPAT LAWANG - Cerita pemilik kebun lada di Empat Lawang, saat ini pemilik kebun lada di beberapa kecamatan sudah mulai panen karena buah lada sudah mulai tua dan keras.

Namun, panen lada di Empat Lawang sekarang tidak seperti lima tahun lalu. Mereka kalah cepat dengan walang sangit hama tanaman yang menyebabkan buah runtuh dari tangkai. Akibatnya hasil panen anjlok.

Dulu saat panen petani bisa mendapatkan hasil satu ton tetapi sekarang paling banyak 100 kilogram bahkan kadang hanya 50 kilogram.

Kondisi ini disebabkan karena pohon lada memang tidak berbuah lebat. Selain itu juga hama walang sangit. 

Salah satunya dialami oleh Helmi, salah seorang pemilik kebun lada yang ada di Desa Tanjung Raman, Kecamatan Pendopo. Ia mengatakan untuk buah ladanya banyak yang runtuh.

"Kalau saya perhatikan sebab pianggang atau walang sangit buahnya jadi runtuh dari tangkainya, jadi pada tiap tangkai itu buahnya hanya sedikit dimana sudah lima tahunan ini kondisinya seperti ini," katanya, Rabu (28/09/2022).

Baca juga: Dua Bayi Dibuang Dalam Sepekan di Sumsel, Ada Warga Mau Adopsi, Ini Syarat Adopsi Anak

Ia bercerita jika dilihat lima tahun ke belakangan biasanya sekali panen dalam satu tahunnya ia bisa mendapatkan satu ton lada kering baik itu lada hitam ataupun putih.

"Kurang lebih ada sekitar 200 batang lada dengan luas lahan setengah hektaran, sekarang itu tidak sampai banyak seperti dulu, 100 kg pun sulit kadang cuman 50 kg sekali panen karena buah runtuh atau sedikit pada tiap tangkainya," jelasnya.

Menurutnya selain karena walang sangit saat ini banyak juga pohon lada di kebunnya yang mati tiba-tiba, akan tetapi hal tersebut dia akali dengan sering menanam kembali pohon baru jadi tetap bertahan dengan jumlah pohon yang hampir sama seperti dulu.

"Bahkan seperti pemilik kebun lada yang lain itu ada yang mati pohonnya sampai hampir separuhnya, saya juga ada tapi saya sering tanam pohon-pohon baru," ungkapnya.

Ia mengingat saat dulu dimana sekali panen ia bisa mendapat uang hingga Rp 50 juta, sedangkan sekarang kurang dari Rp 10 juta.

"Sebab perubahan cuaca saat jadi berbuahnya tidak pasti bahkan bisa sampai tiga kali berbuah dalam satu tahun tapi ya sedikit, tidak seperti dulu yang hanya setahun sekali atau serentak tapi banyak dan lebat," ujarnya.

Ia menambahkan walaupun dulu tidak setiap tahunnya pohon lada akan berbuah pebat, umumnya dalam tiga tahun sekali akan lebat.

"Jadi kalau dua tahun tidak lebat tahun berikutnya akan lebat tapi kalau sekarang ini sudah lima tahunan tidak pernah berbuah lebat lagi," keluhnya.

Adapun untuk saat ini ia menyambung pemasok atau tauke membeli lada putih Rp 80.000 per kilogram sedangkan untuk lada hitam Rp 45.000 per kilogramnya, akan tetapi harga tersebut bergantung pada kondisi lada itu sendiri, dimana semakim kering dan bersih maka akan semakin tinggi pula harganya.

Baca berita lainnya langsung dari google news

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved