Berita Palembang

Minyak dan Gas Bumi Makin Terbatas, Akademisi Didorong Bantu Pemerintah Cari Solusi Energi Baru

Energi fosil minyak dan gas bumi semakin terbatas jumlahnya sedangkan penggunaan semakin banyak, akademisi didorong cari sumber energi baru.

Penulis: Hartati | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/HARTATI
Energi fosil minyak dan gas bumi semakin terbatas jumlahnya sedangkan penggunaan semakin banyak, akademisi didorong cari sumber energi baru. Hal ini dibahas saat seminar nasional Fakultas Teknik Unsri, Kamis (15/9/2022). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Energi fosil saat ini semakin terbatas jumlahnya sedangkan penggunaan semakin banyak sehingga menyebabkan harganya tinggi dan terancam krisis jika tidak ada solusi lainnya.

Meski kondisinya saat dikatakan terlambat namun masih ada waktu untuk mengejar keterlambatan itu salah satunya dengan melakukan konsorsium penelitian bersama sejumlah universitas lainnya.

"Hanya Pertamina yang melayani sendirian energi fosil di tanah air dan permintaan semakin banyak saat ini, ya babak belur Pertamina. Oleh sebab itu kita civitas akademisi harus ikut membantu pemerintah mencarikan solusi energi baru ini," kata Rektor Universitas Sriwijaya (Unsri) Prof Anis Sagaff saat membuka Seminar Nasional Sinergi Riset untuk pengembangan Biofiuel Indonesia yang digelar Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia Unsri, Kamis (15/9/2022).

Anis mengatakan inisiasi energi terbarukan ini sudah ada sejak 1994 lalu dengan diawali likuifaksi batubara namun riset tersebut dinilai lebih besar biaya yang dibutuhkan dibanding hasilnya sehingga energi yang bakal dihasilkan akan jauh lebih mahal lagi.

Baca juga: Pria Paruh Baya di Tanjung Raja Ogan Ilir Ditemukan Tewas Tak Wajar, Kondisi Mayat Terikat Tali

Selain itu riset pada jenis tumbuhan untuk menghasilkan minyak dari pohon juga pernah dilakukan dengan mengolah pohon Jarak, namun ini tidak efisien karena memerlukan banyak pohon jarak sehingga sulit diterapkan. Oleh sebab itu energi terbarukan ini harus dikembangkan segera.

Anis mengatakan berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FOA) dua puluh tahun lalu telah memberikan gambaran jika perang dunia ketiga bakal terjadi salah satunya penyebabnya yakni berebut energi.

Sebab energi fosil tidak bisa diperbaharui sehingga menjadi rebutan dunia.

Penyebab lainnya yakni berebut lahan seperti yang terjadi saat ini negera lain mencaplok negera lainnya.

Lalu penyebab parang dunia ketiga lainnya yakni berebut makanan karena semakin banyak jumlah penduduk dunia yang lebih banyak dibanding jumlah makanan yang tersedia.

"Energi fosil itu saat ini bagian hulunya kita memang punya tapi bagian hilirnya masih harus ada campuran barang impor yang tidak dimiliki di dalam negeri agar siap digunakan jadi BBM," tambah Anis Sagaff.

Sementara itu Ketua Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Unsri, Dr Tuti Indah Sari, ST MT mengatakan penelitian yang dilakukan saat ini membuat energi terbarukan menggantikan energi yang tidak bisa diperbaharui atau energi fosil baik gas bumi maupun minyak.

Energi terbarukan ini dibuat dari beragam bahan tanaman, limbah tanaman dan lainnya seperti bio etanol, bio massa dan lainnya.

"Seperti yang tengah dikembangkan saat ini yakni menciptakan katalis atau hasil tandan kosong buah sawit menjadi energi pengganti minyak dan gas bumi," katanya.

Baca berita lainnya langsung dari google news

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved