Liputan Khusus Tribun Sumsel

Mahasiswa Terdampak BBM Naik, Marak Demo, Ini Kata Pengamat Sosial Unsri Dr M Husni Thamrin (2)

Aksi demo protes BBM naik marak terjadi di Indonesia. Mahasiswa bersama masyarakat protes kenaikan BBM.

Editor: Vanda Rosetiati
DOK TRIBUN SUMSEL
Aksi demo protes BBM naik marak terjadi di Indonesia. Mahasiswa bersama masyarakat protes kenaikan BBM. Ini kata Pengamat Sosial Unsri Dr M Husni Thamrin. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Mahasiswa termasuk bagian masyarakat terdampak BBM naik. Aksi demo protes BBM naik marak terjadi di Indonesia. Mahasiswa bersama masyarakat protes kenaikan BBM.

Pengamat Sosial dari Unsri Dr M Husni Thamrin mengatakan, maraknya demo mahasiswa dan masyarakat terkait kenaikan BBM dalam perspektif kebijakan publik dapat dimaknai sebagai buntunya akses masyarakat, terhadap proses pengambilan keputusan melalui jalur-jalur konvensional.

"Jalur konvensional dimaksud adalah melalui jalur-jalur resmi, kelembagaan yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Seperti adanya proses diskusi publik, dengar pendapat dan sebagainya yang dilakukan sejak proses penetapan agendanya," kata Husni.

Termasuk dalam proses pembahasan sampai pada kesimpulan kebijakan kenaikan, diungkapkan Husni yang seyogyanya melalui proses uji publik atau pun mekanisme lain, yang pada intinya melibatkan suara bagian terbesar masyarakat.

"Memang panjang dan terkesan melelahkan, namun itulah konsekuensi demokrasi. Akibatnya seringkali pengambilan kebijakan dilakukan secara sepihak, atau kalau pun ada proses konsultasi dengan masyarakat dilakukan lebih bersifat formalitas, sehingga akibatnya sebagian masyarakat merasa suara mereka tidak diperhatikan dalam jalur-jalur konvensional. Maka dipilihlah mekanisme non konvensional seperti unjuk rasa, demonstrasi, petisi dan sejenisnya," ungkap Husni.

Liputan khusus Tribun Sumsel, mahasiswa perantauan di Palembang merasakan dampak negatif dari kenaikan harga BBM bersubsidi. Uang saku tidak berubah sementara biaya hidup meningkat, Rabu (14/9/2022).
Liputan khusus Tribun Sumsel, mahasiswa perantauan di Palembang merasakan dampak negatif dari kenaikan harga BBM bersubsidi. Uang saku tidak berubah sementara biaya hidup meningkat, Rabu (14/9/2022). (DOK TRIBUN SUMSEL)

Penjelasan sederhanan mengapa demo tentang BBM ini marak. Pertama, dijelaskan Husni karena memang kebijakan ini "menyakitkan" dan cukup memukul, di tengah suasana masyarakat yang tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.

"Kedua, kurang baiknya komunikasi publik yang dilakukan oleh pemerintah dalam kebijakan kenaikan ini. Walaupun isyarat tentang akan adanya kenaikan ini sudah lama, namun berkali-kali muncul berbagai rencana kebijakan lain, yang arahnya pada pembatasan konsumsi dan penataan pengguna BBM bersubsidi agar lebih tepat sasaran. Isunya jadi berganti-ganti mulai dari aplikasi my Pertamina sampai ganjil genap," paparnya.

Baca juga: LIPSUS: Dulu Lauk Ayam Sekarang Telur, Mahasiswa Rantau Terdampak BBM Naik, Uang Saku Berkurang (1)

Ditambah lagi dengan adanya BLT BBM sebagai bagian dari upaya pemerintah, untuk membantu beban masyarakat namun baru saja diluncurkan 2 hari harga BBM langsung dinaikan.

"Hal inilah yang menyakitkan, memicu munculnya unjuk rasa dan demo di mana-mana. Artinya, jika memang pemerintah meyakini bahwa kebijakan kenaikan ini memang merupakan keniscayaan, maka perbaikilah komunikasi publik. Jangan memberi kesan ketidakjelasan, sehingga menyuburkan berbagai rumor yang berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat," pungkasnya. (arf)

Baca berita lainnya langsung dari google news

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved