Berita Palembang
Koalisi Jelang Pemilu 2024 Disebut Masih Cair, Kini Partai Politik Masih Saling Menjajaki
Tersisa satu raksasa partai politik di Indonesia yang belum mempunyai koalisi yaitu PDI Perjuangan.
Penulis: Arief Basuki Rohekan | Editor: Slamet Teguh
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Sebagai persiapan menghadapi Pemilu 2024.
Dimana sekitar satu setengah tahun lagi bakal berlangsung, peta koalisi saat ini mulai terang.
Setelah partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN) , dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) membentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB).
Kini giliran Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sepakat menjajaki pembentuk poros koalisi dinamai Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR).
Sementara beberapa partai lain juga mewacanakan membentuk poros baru, yakni Nasdem, Demokrat, dan PKS.
Tersisa satu raksasa partai politik di Indonesia yang belum mempunyai koalisi yaitu PDI Perjuangan.
Pengamat politik dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Dr Febrian mengungkapkan, meski saat ini parpol sudah ada yang menyatakan berkoalisi di Pemilu 2024 mendatang, hal itu belumlah final dan masih bisa mengalami perubahan nantinya.
"Ya masih cair, masih saling menjajaki kemungkinan- kemungkinan perlu banyak koalisi, dimana ini lebih didekatkan pada ideologi partai, misalnya kenapa PKS kemarin dekat dengan PKB, dan lalu sekarang berubah," ungkapnya.
Dekan Fakultas Hukum Unsri ini, parpol memang perlu melakukan koalisi dengan parpol yang ada, dalam memenangkan pasangan calonnya termasuk dalam memimpin kedepan. Sehingga penjajakan koalisi saat ini perlu dilakukan.
"Saling menjajaki itu tentu saling berhitung, karena tujuan dari koalisi itu untuk memenangkan suatu pertandingan, itulah menarikanya ada syarat yang dipenuhi seperti ambang batas presidential threshold (PT) minimal 20 persen dan sebagainya.
Bisa saja orang lalu mengatakan PT itu terlalu tinggi, tapi bagi partai besar seperti PDIP tidak ada koalisi, maka didalam pelaksanaan pemerintahan akan susah. Itu menariknya maka diusung isu- isu yang ada dan ini coba dilihat oleh partai," ujarnya.
Baca juga: Puan Maharani Bicara Soal Peluang PDIP Merapat ke Poros PKB-Gerindra di Pilpres 2024
Baca juga: PKB Ngotot Ingin Cak Imin Maju Sebagai Capres di Pilpres 2024, Prabowo Disebut Jadi Cawapres Bagus
Soal nama yang beredar, hal itu juga diungkapkannua masih cair, meski ada nama yang menjanjikan misal Ganjar Pranowo, Jenderal TNI Andika Perkasa, tapi jika sampai syarat formal dan informal belum terpenuhi tentu itu belum fix untuk ditetapkan sebagai Capres kedepan.
"Tetapi kemudian untuk dijajaki dan disurvei bisa saja, melihat sejauh mana kalkulasi dan variasi pasangan itu menarik utak- atiknya. Dan kita melihat ada partai Islam ada partai nasional, di aspek- aapek itu banyak juga faktor yang diperhatikan misalnya pemilih perempuan, pemilih millenial dan itu membuat penjajakan cair," tambahnya.
Apalagi dilanjutkan Febrian, nama- nama (Capres) yang beredar memang yang selama ini dieluk- elukkan untuk diusung selama ini. Jika ditambahkan nama Sandiaga Uno, Erick Tohir dan sebagainya masih penjajakan.
Ia pun memastikan, paling tidak dalam setahun kedepan akan kelihatan solidnya Partai berkoalisi, disamping saat ini baru ditebar isu dan ditangkap, dalam upaya tebar pesona personal yang ada.
"Jadi itu sementara jualannya parpol, layak tidak dengan dilakukan bisa melalui survey, sosialisasi yang semua itu ada hitung- hitungannya. Tapi, jika dimajukan kalah, parpol pasti tidak mau juga," tutupnya.
Baca berita Tribunsumsel.com lainnya di Google News