Liputan Khusus Tribun Sumsel

Dinas Pertanian TPH Sumsel Rekrut 2.000 Tenaga Ahli, Wujudkan Sumsel Mandiri Pangan

Agar bisa mewujudkan Sumsel mandiri pangan maka harus dikenali dulu karakteristik lahan pertanian, potensi, masalah dan tantangan mengembangkannya.

Editor: Vanda Rosetiati
TANGKAP LAYAR SUMSEL VIRTUAL FEST 2022
Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Sumsel Dr Ir H Bambang Pramono MSi mengungkapkan Dinas TPH Sumsel rekrut 2.000 tenaga ahli wujudkan Sumsel mandiri pangan. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Pemprov Sumsel konsisten dengan progam Sumsel maju untuk semua salah satunya yakni Sumsel mandiri pangan. Agar bisa mewujudkan Sumsel mandiri pangan maka harus dikenali dulu karakteristik lahan pertanian, potensi, masalah dan tantangan mengembangkannya.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Sumsel Dr Ir H Bambang Pramono MSi dalam analisisnya memuat Sumsel termasuk kota penyangga pangan nasional ke lima di tanah air karena tanaman pangan yang dihasilkan Sumsel beragam bukan cuma padi tapi juga umbi-umbian, buahan dan juga sayur atau lengkap tanaman pangan dan holtikultura.

Demografis atau kondisi lahan pertanian Sumsel karena luas baku sawah atau luas sawah yang diakui Badan Pusat Statistik (BPS) nasional mencapai 470.602 hektare. Dari total luas lahan sawah tersebut sebagai basar atau 72,2 persennya adalah lahan rawa yang terdiri dari lebak dan lahan pasang surut. Lahan rawa sendiri adalah lahan paling luas di Indonesia yang terdiri 339 ribu hektare.

Karakteristik lahan sawah ini unik karena saat musim kemarau justru puncaknya musim tanam dan potensi pertaniannya besar. Atau justru saat kemarau inilah DNA nya pertanian Sumsel.

Berbeda dengan kondisi pertanian di Pulau Jawa yang justru tidak bisa bercocok tanam karena kemarau dan tidak air sebab irigasi kurang kekurangan air.

Ogan Komering Ilir (OKI) memiliki luas lahan rawa paling besar di Sumsel yakni 50 ribu hektare dan lahan pasang surut 30 ribu hektare padahal total lahan sawah di OKI mencapai hampir 100 ribu hektare atau sebagain besar adalah lahan rawa.

Lebak yang ada di Sumsel bisa dikelompokkan menjadi tiga tipologi nya yakni lebak dangkal dengan genangan air yang bisa bertahan tiga hingga enam bulan.

Kedua yakni lebak tengahan dengan genangan air yang bisa bertahan enam hingga sembilan bulan dan terakhir lebak dalam yang bisa tergenang air lebih dari sembilan bulan bahkan sepanjang tahun.

Meski potensi pertanian ada, namun juga ada tantangan tersendiri jika sepanjang tahun lahan terendam air apalagi dalam.

Sejak 2018 hingga 2021 atau sejak tiga tahun terlahir kondisi pertanian Sumsel memang turun karena perubahan kondisi cuaca ekstrim. Produksi gabah kering mencapai 2,97 juta ton, namun tahun 2019 produksi padi kembali turun mencapai 2,67 juta ton dan tahun 2020 naik menjadi 2,73 juta ton gabah kering. Namun tren kenaikan produksi gabah ini kembali turun pada 2021 menjadi 2,54 juta ton.

Dari data BMKG yang mengatakan tiga tahun terakhir cuaca ekstrim atau kemarau basah membuat proses tanam sulit dilakukan karena karakteristik lahan rawa itu sendiri. Sebab lahan rawa itu akan berada pada puncak tanam saat kemarau namun tiga tahun belakangan cuaca kemarau basah.

Artinya kemarau namun masih ada hujan, sedangkan puncak masa tanam saat kemarau karena lahan rawa akan kering sehingga bisa bertanam. Tapi jika lahan rawa namun masih ada hujan inilah yang membuat proses tanam tidak bisa maksimal.

Faktor cuaca ini bisa ada intervensi lainnya sehingga produktivitas dan hasil panen tidak terus anjlok karena hanya mengandalkan faktor eksternal atau faktor alam saja.
Dan inilah yang dilakukan oleh Pemprov Sumsel yang digaungkan oleh Gubernur Herman Deru dan Wagub Mawardi Yahya dengan visi misinya Sumsel maju untuk semua dengan misi pertamanya membangun Sumsel berbasis ekonomi kerakyatan yang didukung sektor pertanian, UMKM dan sektor lainnya.

Gubernur dan Wagub Sumsel memiliki sasaran meningkatkan panen inklusif berbasis inovasi daerah dengan inovasi ini diharapkan bisa membuat hasil panen bagus menghadapi kendala cuaca ekstrim yang terjadi tiga tahun berturut-turut.

Upaya itu dengan merekrut hampir 2.000 tenaga ahli yakni pendamping Peningkatan Ekonomi Pertanian (PPEP), pendamping ketahan pangan sehingga bisa mendampingi petani mulai dari meningkatkan produktivitas pertanian hingga memasarkan hasilnya.

Konsistensi Gubernur Herman Deru membawa Sumsel Mandiri pangan dilakukan dengan mengalokasikan sebagian besar APBD untuk sektor pertanian. (tnf)

Baca berita lainnya langsung dari google news

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved