Berita OKI Mandira

Turunkan Angka Stunting, Pemkab Ogan Komering Ilir Kerahkan 1.806 Pendamping Keluarga

Pemkab Ogan Komering Ilir (OKI) serius untuk menekan angka stunting menjadi 23 persen di tahun 2022.

Penulis: Sri Hidayatun | Editor: Yohanes Tri Nugroho
Humas Pemkab OKI
Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir mengerahkan 1.806 personil yang tergabung dalam Tim Pendamping Keluarga (TPK) untuk menekan angka stunting menjadi 23 persen di tahun 2022 ini. 

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG -- Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mengerahkan 1.806 personil yang tergabung dalam Tim Pendamping Keluarga (TPK) untuk menekan angka stunting menjadi 23 persen di tahun 2022.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Ogan Komering Ilir, H. M. Lubis, SKM.M.Kes dalam laporannya mengatakan salah satu pembaharuan strategi baru yang dilakukan melalui pendekatan keluarga yang beresiko stunting yaitu calon pengantin, ibu menyusui, ibu pasca melahirkan dan bayi sampai anak berumur 2 tahun.

"Apel siaga tim pendamping keluarga dilakukan untuk meningkatkan komitmen dalam upaya percepatan penurunan stunting di Indonesia. Dimana di Kabupaten Ogan Komering Ilir terdapat 1806 orang yang tergabung dalam Tim Pendamping Keluarga yang akan bertugas di 4200 Rukun Tetangga (RT) di OKI," jelas Lubis di ruang Rapat Bende Seguguk 1.

Bupati OKI melalui Asisten Bidang Administrasi Umum, Hj. Nursulla, S.Sos dalam sambutannya mengatakan prevalensi stunting kabupaten Ogan Komering Ilir masih melebihi rata-rata Provinsi Sumatera Selatan, maka dari itu Pemkab OKI melalui DPPKB menargetkan prevalensi stunting tahun 2022 di angka 23.08 sebagai upaya akselerasi penurunan stunting.

"Akselerasi penurunan stunting di kabupaten Ogan Komering Ilir tidak hanya dilakukan oleh DPPKB OKI saja, karena itu diperlukan kolaborasi seluruh elemen organisasi perangkat daerah dan juga keterlibatan masyarakat. Sehingga kabupaten Ogan Komering bebas stunting dapat terwujud," ungkap Nursulla.

Kepala BKKBN RI, Dr. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, SP. OG (K) menyampaikan keterlibatan ikatan bidan Indonesia dalam tim pendampingan keluarga mampu memperkuat legitimasi sebagai legal medical agent.

Sementara TP PKK dapat membantu dalam proses negosiasi dalam proses pendampingan serta koordinator KB sebagai kelompok paling memahami kondisi lapangan. Kerjasama ketiganya akan menjadi perpaduan kolaborasi yang efektif untuk mencapai hasil terbaik.

"Calon bayi dalam kandungan sampai dengan 1.000 hari kehidupan pertamanya perlu mendapatkan perhatian khusus. Hal ini agar terhindar dari kelahiran stunting baru, Khususnya bagi pasangan baru menikah dari sejak 75 hari sebelum pernikahan resmi perlu mengkonsumsi makanan dan minuman yang kaya akan Zinc. Hal ini baik untuk dilakukan, karena Hidup Berencana itu Keren", ujar Hasto Wardoyo yang tersambung secara virtual.

Baca juga: Kabupaten Ogan Komering Ilir Top 3 Capaian SPM Nasional 2021

Sementara itu, Deputi Bidang Advokasi, Penggerakan dan Informasi (ADPIN), Drs. Sukaryo Teguh Santoso, M.Pd., mengatakan apel siaga tim pendamping keluarga tahun 2022 ini merupakan momentum verifikasi dan validasi keluarga yang beresiko stunting. Data tersebut bersumber dari data keluarga nasional tahun 2021.

"'Kegiatan ini melibatkan 950an peserta yang bergabung di Kabupaten Subang,  Jawa Barat yang diikuti oleh 514 Kabupaten dan Kota di seluruh Indonesia ini untuk mengakselerasi penurunan stunting dengan memberikan informasi dan pelayanan guna mencegah kelahiran stunting baru. Dalam hal ini, melibatkan para bidan, TP PKK serta kader KB dalam implementasinya," ujar Sukaryo.

Baca berita lainnya langsung dari google news

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved