Skakmat Dedi Mulyadi ke Ustaz Khalid Basalamah, Buntut Heboh Wayang yang Dinilai Haram

Dalam sebuah ceramah, Ustaz Khalid Basalamah menjawab pertanyaan dari warga mengenai wayang dinilai telah menyimpan dari ajarang Islam.

Editor: Moch Krisna
dok. DPR RI
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi saat RDP dengan Badan Keahlian DPR RI di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (15/6/2021). 

TRIBUNSUMSEL.COM -- Anggota DPR RI Dedi Mulyadi angkat bicara terkait heboh pernyataan Ustaz Khalid Basalamah mengenai wayang.

Dalam sebuah ceramah, Ustaz Khalid Basalamah menjawab pertanyaan dari warga mengenai wayang dinilai telah menyimpan dari ajarang Islam.

Adapun pernyataannya soal ajakan meninggalkan wayang itu seperti terlihat Tribun dalam tayangan Youtube Yarif.TV yang diunggah tahun lalu, berdurasi 2.23.

Pernyataannya itu menuai kontroversi dan kritikan dari sejumlah pihak.

Salah satunya dari Dedi Mulyadi, anggota DPR RI yang juga Wakil Ketua Komisi IV DPR RI.

“Kalau saya sederhana saja. Benar itu pernyataan Pak Ustaz, wayang itu haram.

Tata Cara Itikaf Yang Benar Agar Mendapat Malam Lailatul Qadar Menurut Ustadz Khalid Basalamah
Tata Cara Itikaf Yang Benar Agar Mendapat Malam Lailatul Qadar Menurut Ustadz Khalid Basalamah (Tribunsumsel.com/youtube)

Betul sekali wayang kulit, wayang golek plus gamelannya haram. Haram kalau dimakan,” ujar Dedi Mulyadi seraya berseloroh.

“Kalau wayang golek direbus terus dimakan itu haram, apalagi dimakan mentahnya.

Kemudian wayang kulit digoreng, direbus, gambang, rebab, jenong, rebab itu juga haram kalau dimakan. Jadi untuk itu wayang ditonton saja,” lanjut Dedi.

Baginya, wayang memiliki filosofi yang mengajarkan manusia untuk berbuat kebaikan dalam segala hal. Termasuk juga keberanian dalam kepemimpinan.

Contohnya saja dalam wayang golek ada tokoh punakawan terdiri dari Semar Badranaya, Astrajingga, Udawala dan Gareng yang kental dengan cerita pemahaman pengabdian kepada pemimpin.

"Kemudian ada kesatria yang kukuh dalam pendirian namun mati di medan perang, Raden Gatotkaca. Dan bagaimana orang yang kukuh dalam pengabdian tidak pernah berbohong, ketika sekali berbohong keretanya patah, ialah Darma Kusumah,” ucapnya.

Tidak hanya itu, ada juga pesan sarat makna dari sosok Arjuna.

“Ada juga tokoh yang sering kali mengalami kegundahan berpikir dan berubah-ubah karena pengaruh bisikan yaitu Arjuna. Begitu juga politik yang selalu mempengaruhi pimpinannya untuk menguasai orang lain, menginvasi orang lain, menghegemoni orang lain yaitu Sengkuni,” beber Dedi.

Selain tokoh-tokoh tersebut ada juga Begawan Abiasa yang berpihak pada Astina karena kewajiban kenegaraanya meski hatinya menolak.

“Tontonlah wayang, dengankahlah suara gamelannya yang penuh cinta, maka kita bahagia dalam falsafah dan makna. Dan jangan memakannya karena akan mendapat petaka,” ujar Kang Dedi Mulyadi.

Pernyataan Lengkap Ustaz Khalid Basalamah

(Membacakan pertanyaan dari jemaah)

“Saya orang Jawa dan saya suka pewayangan. Jadi, apakah wayang dilarang? Bagaimana tobat profesi dalang?

(Ustaz Khalid Basalamah menjawab)

Tentu saja saya sudah pernah bilang ke teman-teman sekalian. Tanpa mengurangi penghormatan terhadap tradisi dan budaya, semua suku. Di Indonesia suku bugis suku Makassar, Suku Jawa smeua.

Kita tidak akan berbicara dalam ceramah seperti ini bukan untuk menjatuhkan sama sekali. Tapi kita harus tahu dan sadar bahwa kita muslim. Dan muslim ini dipandu oleh agama.

Makanya saya bilang caranya adalah harusnya Islam dijadikan tradisi dan budaya. Jangan kita balik, jangan budaya di-Islamkan, susah.

Meng-Islamkan budaya ini repot, karena budaya banyak sekali. Standar mana yang harus kita pegang. Nanti akan ada ciri khasnya sendiri.

Di Indonesia ada ciri khasnya sendiri. Di Amerika ada sendiri Islamnya.

Ini jadi masalah karena pada dasarnya Allah tidak menginginkan itu. Allah menginginkan kita punya standarisasi. Jadi Allah yang saya tahu yang lebih baik seperti ini.

Kalau itu peninggalan nenek moyang kita, atau mungkin ita kenang dulu. Oh ini tradisinya orang dulu. Tapi kan bukan berarti harus dilakukan sementara dalam Islam dilarang. Kita sudah muslim.

Harusnya kita tinggalkan.

Kalau masalah taubat ya taubat nasuha pad Allah sementara dengan tiga syarat yang sudah kita tahu. Meninggalkan dosar itu seketika menyeesal dan janji sama Allah tidak akan mengulangi dan jika dia punya, lebih baik dimusnahkan, dalam arti dihilangkan.

Saya merasa mungkin memang perlu kita pertemukan hal-hal seperti ini dengan ilmu pengetahuan sekarnag. Artinya, bukan kita mau menghapus 100 persen masalah kebiasaan dan tradisi tapi kalau tidak cocok dengan agama, wajar kita tinggalkan.

Atau ada teknologi canggih yang lebih baik. Seperti orang sekarang sudah biasa tampil di panggung, bercerita. Maka dengan wayang-wayang ini sebenarnya sudah bisa tergantikan dengan manusia.

Yang sudah jelas-jelas nyata. Saya pikir generasi sekarang lebih cenderung meninggalkan itu karena sudah merasa ini sudah zaman dulu.

Mungkin bisa kita tangkap secara rasional meninggalkan degan cara itu juga jadi memahami poin tadi.

Berita Ini sudah tayang di Tribunjabar.id

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved