Breaking News:

Lagi, Mitra Binaan PLN Berhasil Juarai Kompetisi Tingkat Provinsi

IKM Sumber Hayati mitra binaan PLN Sumsel Jambi Bengkulu meraih Juara 1 dalam Kompetisi Kain Besurek se-Provinsi Bengkulu.

Editor: Vanda Rosetiati
HANDOUT PLN (PERSERO)
Industri Kecil Menengah (IKM) Sumber Hayati, yang merupakan mitra binaan PLN Sumatera Selatan Jambi dan Bengkulu, melalui Rumah BUMN Kepahiang berhasil meraih Juara 1 dalam Kompetisi Kain Besurek se-Provinsi Bengkulu. 

TRIBUNSUMSEL.COM, BENGKULU - PT PLN (Persero) melalui Program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL)-nya, kembali menorehkan capaian apik di Tahun 2021. Industri Kecil Menengah (IKM) Sumber Hayati, yang merupakan mitra binaan PLN Sumatera Selatan Jambi dan Bengkulu, melalui Rumah BUMN Kepahiang berhasil meraih Juara 1 dalam Kompetisi Kain Besurek se-Provinsi Bengkulu yang diselenggarakan dalam memperingati HUT Provinsi Bengkulu yang ke-53, di Hotel Mercure pada pada 27-28 November 2021 lalu.

Pada event yang diikuti puluhan pengrajin batik se-Provinsi Bengkulu itu, IKM Sumber Hayati membawa batik tulis besurek "Taneak Bediwo", yang merupakan ciri khas Kabupaten Kepahiang. Motif yang unik dan sangat kental dengan nuansa daerah penghasil kopi itu berhasil memikat mata para juri dan pengunjung yang hadir.

IKM Sumber Hayati sendiri baru bergabung menjadi mitra binaan Rumah BUMN Kepahiang pada April 2021 lalu. Mendapatkan bantuan modal usaha sebesar 10 Juta Rupiah, IKM Sumber Hayati memaksimalkan bantuan tersebut untuk menambah peralatan membatik. Sejak itu, kapasitas produksi industri kerajinan batik yang menggerakan tidak kurang dari 20 warga di sekitar Desa Tebat Monok, Kota Kepahiang ini semakin meningkat.

Ditunjang dengan kegiatan pelatihan yang dilakukan untuk meningkatkan skill membatik pada Bulan Juni 2021 lalu, para pengrajin batik yang tergabung dalam IKM Sumber Hayati semakin terampil dalam memproses kain batik dengan waktu yang lebih cepat. Hal ini semakin meningkatkan kapabilitas dan kapasitas dari IKM Sumber Hayati dalam memproduksi batik khas daerah pegunungan tersebut.

Batik Diwo sendiri adalah batik khas Kepahiang yang sudah ada sejak Tahun 1985. Batik Diwo memiliki ciri khas adanya motif berupa Selempang emas, stabik, pucuk rebung, huruf lingkung/ kha ga nga serta motif perkebunan seperti kopi dan sahang. Saat ini keberadaan batik khas daerah penghasil kopi dan teh ini semakin terancam, karena selain kalah pamor dengan batik daerah lain, juga dikarenakan jumlah pengrajin yang melestarikan Batik Diwo ini semakin sedikit.

Dengan pencapaian yang diraih IKM Sumber Hayati, diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi IKM/UKM lainnya untuk terus maju dan meningkatkan perekonomian berbasis kemasyarakatan. Hal ini diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam upaya menekan laju angka pengangguran, dan membantu masyarakat setempat dalam meningkatkan ekonomi melalui usaha kecil yang mandiri.

Baca berita lainnya langsung dari google news

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved