Breaking News:

Berita Banyuasin

Perajin Gerabah Merambah Medsos, Sebagai Langkah Membantu Penjualan

Perajin gerabah di Kelurahan Tanah Mas Kecamatan Talang Kelapa Banyuasin, saat ini masih terus bertahan meski pembeli masih tidak terlalu banyak.

Penulis: M. Ardiansyah | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/M ARDIANSYAH
Dedy pengerajin gerabah yang ada di Kelurahan Tanah Mas Kecamatan Talang Kelapa Banyuasin saat membuat pot bunga, Selasa (30/11/2021). 

TRIBUNSUMSEL.COM, BANYUASIN - Perajin gerabah di Kelurahan Tanah Mas Kecamatan Talang Kelapa Banyuasin, saat ini masih terus bertahan meski pembeli masih tidak terlalu banyak.

Seperti dilakukan Dedy Gerabah, terus memproduksi berbagai macam gerabah di tempatnya di Jalan Lintas Timur Palembang-Betung Lorong Musolla Kelurahan Tanah Mas Kecamatan Talang Kelapa Banyuasin.

Ketika didatangi, Dedy bersama sejumlah keluarga dan tetangga terlihat sibuk membuat gerabah. Dedy dan satu orang lainnnya, sibuk membuat pot bunga. Sedangkan dua orang lainnya sibuk mencelupkan gerabah yang sudah jadi ke dalam cat.

Di dalam pondok gerabah Dedy ini, juga terlihat gerabah yang sudah jadi dengan berbagai macam bentuk. Ada celengan karakter kartun maupun hewan, ada pula kendi hingga pot bunga mulai dari yang kecil hingga besar.

Dedy mengaku, ia keturunan ketiga meneruskan kerajinan yang dirintis sang nenek. Memanfaatkan keahlian yang diwariskan dari sang nenek dan orangtua, hingga kini Dedy bersama sejumlah keluarga dan tetangga tetap terus bertahan membuat gerabah.

"Kalau tahun lalu, menjual secara manual atau dengan memajang etalase masih bisa. Tetapi, karena pandemi, kami memilih beralih menjual melalui media sosial. Memang tidak seramai manual, tetapi tetap ada yang membeli," ungkap Dedy, Selasa (30/11/2021).

Gerabah-berabah yang diproduksi di tempat Dedy, lebih mengutamakan kualitas. Dibuat Serapi mungkin, agar pembeli yang datang atau memesan di tempatnya tidak merasa kecewa. Dari itulah, setiap gerabah yang dibuat cukup lama dalam proses pembuatan hingga finishing.

Untuk satu pot bunga berukuran besar misalnya, setidaknya membutuhkan waktu hingga empat hari hingga jadi pot bunga. Memang, untuk membuat satu pon bunga ukuran besar tidak membutuhkan waktu hanya sekitar 15 menit paling lama.

"Yang lama itu, menjemurnya. Bisa memakan waktu sampai dua hari, tetapi dalam kondisi musim penghujan bisa sampai satu minggu. Untuk pembakarannya juga, membutuhkan waktu selama 12 jam. Tujuannya, agar tanah liat ini memang benar-benar matang hingga ke dalamnya dan tidak mudah pecah," ungkapnya.

Bila telah selesai dibakar dan dilakukan pendinginan, barulah gerabah-gerabah ini dilakukan pengecatan sesuai motif. Tinggal lagi, pengeringan cat dan dibungkus menggunakan kantong plastik putih.

Lanjut Dedy, pangsa pasar pembeli yang datang tidak hanya dari Banyuasin, akan tetapi juga Palembang dan sekitarnya. Sebagai upaya mendukung penjualan, ia memanfaatkan perkembangan dunia digital. Sosial media baik Facebook maupun Instagram, menjadi salah satu sarana untuk menjual kerajinan gerabahnya.

"Harga yang kami tawarkan, paling tinggi itu Rp 150 ribu untuk pot kembang ukuran besar. Yang lainnya beragam, mulai dari harga Rp 5.000. pembeli bisa datang langsung maupun memesan yang nantinya diantar," katanya.

Dedy juga mengutarakan, ditempatnya tidak hanya membuat gerabah saja. Disini juga menerima pengunjung yang ingin belajar membuat gerabah. Ditempatnya, juga dijadikan lokasi wisata baik untuk sekolah maupun instansi yang ingin melihat langsung proses pembuatan gerabah.

Baca juga: Pelayanan Kesehatan Tetap Siaga Saat Nataru, Dinkes Sumsel Masih Koordinasi Terkait Rencana Posko

Baca berita lainnya langsung dari google news

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved