Breaking News:

Berita OKI

Tercatat Ada 1.170 Orang dengan Gangguan Jiwa di OKI, Dinkes Kekurangan Stok Obat-obatan 

ODGJ dapat hidup normal kembali asalkan mendapatkan penanganan dan perawatan yang tepat seperti mengikuti pengobatan atau terapi dengan rutin

Penulis: Winando Davinchi | Editor: Wawan Perdana
Kompas.com/ Tribun Health
Ilustrasi Obat 

Hanya saja apabila sudah terlihat sangat gelisah maka pelayanan ODGJ akan diutamakan.

"Jika ada keluarga pasien ODGJ yang menghubungi para tenaga kesehatan tapi daya jangkau rumahnya sangat jauh dari fasyankes, maka petugas Puskesmas akan melakukan jemput bola untuk melaksanakan pelayanan pengobatan kepada Pasien ODGJ,"

"Dan hal tersebut sudah mulai berlangsung selama pandemi Covid-19 melanda," ungkapnya.

Mukti menambahkan, ODGJ harus mendapatkan penanganan yang baik agar pulih kembali, dan yang menjadi kunci utama yakni dengan dukungan keluarga terdekat.

"Dukungan yang bisa dilakukan oleh keluarga yakni memastikan obat yang diberikan benar-benar diminum oleh pasien,"

"Jika habis, segera minta kembali ke fasyankes. Karena dikhawatirkan apabila pasien ODGJ putus obat maka akan beresiko membahayakan dirinya maupun orang lain," terangnya.

Selain itu, terdapat juga penghambat lainnya dalam penanganan ODGJ yakni pasien dan keluarganya terkendala biaya jika akan dirujuk ke rumah sakit jiwa.

"Terkadang ODGJ diderita oleh kalangan tidak mampu, dan mereka belum mempunyai kartu BPJS/KIS sehingga keluarganya merasa kesulitan dalam hal pembiayaan sehingga memilih untuk tidak dirujuk,"

"Sedangkan faktor lainnya yaitu dari pihak tenaga kesehatan itu sendiri, yaitu saya akui stok obat-obatan di kabupaten kita ini masih kekurangan untuk pasien ODGJ," jelasnya.

Mukti juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap populasi ODGJ dan keterbatasan perawatannya di kabupaten OKI baik dari sisi keluarga atau pun dari segi tenaga kesehatan itu sendiri.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved