Breaking News:

Berita Lahat

Lebih Dekat dengan Cik Ujang Bupati Lahat, Bungsu 8 Saudara, Pernah Kerja di Gudang Mall dan Bengkel

Cik Ujang, SH yang kini dipercaya rakyat Lahat, sebagai Bupati Lahat, tak pernah menyangka kini menjabat orang nomor satu di Bumi Seganti Setungguan.

Editor: Vanda Rosetiati
SRIPO/EHDI AMIN
Bupati Lahat Cik Ujang saat diwawancara Kepala Newsroom Sriwijaya Post-Tribun Sumsel, Hj L Weny Ramdiastuti, di Pendopoan Bupati Lahat, Kamis (18/11/2021). 

TRIBUNSUMSEL.COM, LAHAT - Belajar dari kedua orang tua, Cik Ujang, SH yang kini dipercaya rakyat Lahat, sebagai Bupati Lahat, tak pernah menyangka kini menjabat orang nomor satu dibumi seganti setungguan.

Namun, kesuksesan yang didapat suami dari Lidyawati ini tidak didapat dengan mudah. Cik Ujang, pernah merasakan getirnya hidup.

Terlahir dari pasangan H Menawi dan Hj Ciknap, Cik Ujang anak kedelapan dari delapan bersaudara lahir dan besar di Desa Lebak Budi, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.

Meski terlahir sebagai bungsu, Cik Ujang kecil jauh dari kata manja terlebih ayah dan ibunya mengajarkan agar anaknya tidak manja. Saat libur sekolah, ia pergi ke kebun kopi untuk membantu ayah dan ibunya memetik biji kopi.

"Waktu kecik saya pernah nangis karena tak diajak ke kebun kopi oleh ibu. Ya waktu itu saya ingin seperti kakak bisa bantu ibu di kebun," kata Cik Ujang, memulai kisah hidupnya saat diwawancara Kepala Newsroom Sriwijaya Post dan Tribun Sumsel, L Weny Ramdiastuti, di Pendopoan Bupati Lahat, Kamis (18/11/2021).

Tak hanya membantu di kebun kopi, delapan saudara semuanya laki laki, membuat ia dan kakak kakanya menggantikan peran ibu untuk membersihkan rumah mulai dari menyapu, masak dan membersihkan rumah.

Ibu, kata Cik Ujang, selalu mengajarkan kepada kami agar hidup bersih. "Ibu dan Bapak bermalam di kebun. Baru pulang ke desa setiap hari selasa karena hari Rabu ada Pasar Kalangan. Nah, sebelum ibu pulang kami gotong royong bersihkan rumah termasuk memasak untuk menyambut ibu pulang dari kebun. Kami sangat bahagia menanti ibu pulang dari kebun, "ujarnya seraya tersenyum mengingat masa kecilnya.

Dikatakanya, kala itu ia begitu merasakan perjuangan seorang ayah dan ibu dalam membesarkan dan menyekolahkan ia dan kakaknya. Tinggal dikampung, hanya kopi dan karet kala itu menjadi andalan warga untuk hidup.

Namun, sampainya besarnya tekad kedua orang tua ia dan kakaknya bisa menempuh pendidikan bahkan hingga ke perguruan tinggai yang kalah itu masih sulit dijalani warga desa.

"Pendidikan di mulai dari SD Negeri 12 Ulak Pandan. Nah, ada cerita yang sangat berkesan kala duduk di bangku SD. Sebelum akrab disapa Cik Ujang, masih kecil saya dipanggil Marlansyah. Saat guru absen, dia bingung hingga menanyakan nama saya yang sebenarnya karena kakak saya memanggil Marlansyah. Namun, saya jawab kala itu Cik Ujang, hingga kini terus membumi," sampainya, saat ditanya terkait nama Cik Ujang.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved