Series Bencoolen Lalu Bengkulu

Menelusuri Benteng Marlborough Bengkulu, Tukar Guling Inggris Setelah 140 Tahun

Penjajah Inggris dan Belanda menyebutnya Bencoolen (baca: Benkulen). Belakangan, sebutan ini happening lagi.

Penulis: Prawira Maulana | Editor: Slamet Teguh
PRAWIRA MAULANA/TRIBUNNEWS.COM
MARLBOROUGH - Benteng Marlborough mulai dibangun Inggris pada tahun 1714 di Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu. Dari tangan Inggris pada tahun 1824 benteng ini diambil alih Belanda. Kini Fort Marlboroug merupakan cagar budaya yang dilindungi di Bengkulu. Benteng ini dibukan untuk wisatawan setiap harinya. 

TRIBUNSUMSEL.COM - JELANG peluncuran TribunBengkulu.com, kami menyajikan series tulisan potensi Provinsi Bengkulu.

Mulai dari sumber daya alam, kearifan lokal dan tentu saja wisata alam, pantai dan sejarah menarik.

Tribun Network akan hadir secara penuh di wilayah patahan gempa bumi yang paling aktif di dunia ini.

Sebentar lagi jalan tol bagian dari TranSumatera akan membuka Bengkulu.

“Jika saja Inggris tak menukar guling Bengkulu dengan Singapura, mungkin kami sekarang bagian dari Commonwealth,” kata Juliandono, warga Bengkulu.

Kalimat itulah yang sering diucapkan warga Bengkulu pada pendatang untuk membuka cerita tentang sejarah Bengkulu.

“Lebih banyak peninggalan Inggris di sini ketimbang Belanda. Belanda cuma ekpolitasi saja tanpa membangun apa-apa.”

Sebelum membahas keindahan pantai, kita mulai dari Benteng Marlborough yang terkenal itu.

Inilah peninggalan kolonialisasi Inggris di Bengkulu selama 140 tahun yang masih berdiri tegak dan sangat terawat.

Ceritanya, pada abad ke-17 tepatnya 1685, British East India Companyi (EIC) alias John Company, VOC-nyaInggris, diberikan izin untuk mendirikan benteng di Bengkulu.

VOC yang menguasai monopoli Banten mengusir EIC darisana. Padahal saat itu perdagangan lada sedang bagus-bagusnya.

Mula-mula dibangunlah Benteng York, di antara laut dan Muara Sungai Serut, kini Sungai Bengkulu.

Belakang benteng itu ternyata tak representatif.

“Orang-orang Inggris tak nyaman tinggal di benteng itu. Dekat muara jadi nyamuknya begitu banyak, termasuk malaria,” kata Yosan, petugas di Benteng Malborough yang diwawancarai Tribun awal pekan ini.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved