Breaking News:

Berita Palembang

Live Talk Jerat Suap Nan Menggoda, Pengamat: Masyarakat Makin Permisif dengan Korupsi

Live talk dengan tema Jerat Suap Nan Menggoda secara virtual yang dipandu Kepala Newsroom Tribun Sumsel- Sripo Hj L Wenny Ramdiastuti.

TRIBUNSUMSEL.COM
Live talk dengan tema Jerat Suap Nan Menggoda secara virtual yang dipandu Kepala Newsroom Tribun Sumsel- Sripo Hj L Wenny Ramdiastuti. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG,--Pengamat kebijakan publik dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Dr M HusninThamrin mengungkapkan ada nilai- nilai di masyarakat saat ini jika prilaku korupsi di Indonesia merupakan hal biasa atau permisif.

Hal inilah menyebabkan sejumlah pejabat yang ada masih tergoda untuk melakukan korupsi.

"Berkaca dari peristiwa korupsi yang ada, dari sisi nilai jika secara etika di masyarakat semakin permisif dan ini biasa saja, padahal kalau dia korupsi sedikit saja tetap saja korup," ujarnya saat Live talk dengan tema Jerat Suap Nan Menggoda secara virtual yang dipandu Kepala Newsroom Tribun Sumsel- Sripo Hj L Wenny Ramdiastuti.

Menurut Thamrin, pemerintah Indonesia sebenarnya telah berupaya menerapkan Good Goverment selama ini dan belum terwujud dengan prilaku pejabat masih melakukan korup, dan ini berbeda dengan penerapan Good Goverment di negara kecil Singapura yang cukup berhasil.

"Pemerintah kita sebenarnya berupaya melakukannya, yang intinya kita membuat tata kelola yang dinamis ditengah kondisi ruang dan waktu kita, sehingga birokrasi punya keluasan untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, mulai dari jujur dan sistematif. Dimana didasari fundamental cultur (nilai), kendalanya pembangunan cultur yang diinginkan dengan aktual sering tidak kontabel. Sedangkan di Singapura pemimpin berusaha menghargai ketrampilan, tapi kalau kita karena personal atau kedekatan" ujarnya.

Dijelaskan Thamrin sistem yang ada di Indonesia juga hanya sibuk dalam aktivitas dan tidak melakukan review untuk perbaikan- perbaikan, sehingga Good Goverment tidak berjalan.

"Masyarakat kita juga pramagtismes, dan pemimpin kita selama ini tidak jujur kepada masyrakat, dan ini barang mahal dimana banyak pemimpin banyak berkilah bawang putih, padahal dalam pemerintah semua beban baik berat, ringan sama dipikul," ucapnya.

Sementara, Sosilog dari Unsri Dr Ridhah Taqwa mengaku prihatin terkait yang dialami tokoh- tokoh Sumsel yang terjerat korupsi seperti Alex Noerdin dan Dodi Reza, yang selama ini memiliki prestasi dalam memimpin daerah.

Namun ia menilai, masih adanya suap nan menggoda ke pejabat  di Indonesia lebih disebabkan politik disnasty yang ada saat ini, meski dalam aturan tidak melarang, namun cenderung politik dinasty ini menyebabkan orang melakukan korupsi.

"Ada dua hal menarik terkait politik dinasty, dimana kasus korupsi keluarga pejabat bukan hanya di Sumsel, yang melibatkan keluarga, dan ini gejala nasional. Di Sumsel  ayah dengan anak dengan kasus berbeda, tapi Kutai Timur suami dengan istri, Kendari ayah dengan anak, dan Cilegon masih kerabat. Jadi ini fenomena menarik para pelaku korupsi punya hubungan kerabat yang dekat," jelasnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved