Breaking News:

Berita OKI

Didatangi Pembeli dari Palembang, Melihat Pembuatan Batu Bata di Desa Sungai Belida OKI

Hampir di setiap rumah warga di Desa Sungai Belida kecamatan Lempuing Jaya OKI terlihat tumpukan batu bata yang sedang dalam proses pembuatan

TRIBUNSUMSEL.COM/WINANDO
Sriyanto warga RW 02 Desa Sungai Belida Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten Ogan Komering Ilir saat sedang membuat batu bata, Minggu (17/10/2021) siang. 

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG -- Desa Sungai Belida kecamatan Lempuing Jaya kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi salah satu wilayah penghasil batu bata.

Selain menjadi petani dengan ladang utamanya yaitu sawah, membuat batu bata juga termasuk ke dalam mata pencaharian masyarakat di desa tersebut.

Hampir di setiap rumah warga terlihat tumpukan batu bata yang sedang dalam proses pembuatan maupun yang sudah siap dijual.

Seperti Sriyanto warga RW 02 Desa Sungai Belida Kecamatan Lempuing Jaya yang mengakui jika ada ribuan warga di desanya membuat batu bata.

"Di sini kalau tidak di sawah (pekerjaannya) ya membuat bata. Bahkan ada juga yang dua-duanya dilakukan, jadi bisa membuat bata di lahan sawahnya karena langsung dekat dengan bahan baku batu bata," ungkapnya kepada Tribunsumsel.com, Minggu (17/10/2021) siang.

Diterangkannya, untuk Sriyanto sendiri kesehariannya lebih fokus menjadi pembuat batu bata supaya bisa menghasilkan kualitas yang baik.

"Alhamdulillah kualitas batu bata kami bagus-bagus dan menjadi pilihan para pelanggan dari Kayuagung bahkan dari Palembang juga memesan sampai ke sini," bebernya.

Sriyanto menuturkan musim penghujan memberi pengaruh terhadap hasil pembuatan batu bata karena pada prosesnya membutuhkan bantuan sinar matahari.

"Kalau panas, 3 hari penjemuran saja batu bata yang sudah dicetak bisa kering, tetapi kalau musim hujan bisa sampai 7 hari baru kering,"

"Jadinya batu bata yang dihasilkan saat musim hujan lebih sedikit," katanya.

Namun, meskipun batu bata yang dihasilkan lebih sedikit hal tersebut tidak menjadi masalah besar bagi Sriyanto dikarenakan musim penghujan berbarengan dengan mendekati masa akhir tahun di mana pembeli memang menurun.

"Kalau mendekati akhir tahun memang masih agak sepi. Tetapi kalau masuk pertengahan tahun banyak yang memesan, karena di waktu-waktu itu banyak orang membangun rumah," terangnya.

Baca juga: Tak Sengaja Lihat Kakak Ipar Tidur Tanpa Busana, Pria Muda di OKI Coba Rudapaksa

Dikatakannya, jika dalam proses pembuatan tidak ada gangguan maka dalam satu bulan bisa menghasilkan sampai 20 ribu bata yang sudah siap dibakar dan siap jual.

"Untuk harganya sendiri tidak tentu mengikuti harga pasar. Saat ini batu batu bata siap jual yaitu Rp 500 rupiah persatuannya, padahal tahun kemaren satuannya dijual Rp 700,"

"Di sini menggunakan bahan baku utama berupa tanah lempung, dijamin lebih bagus dibandingkan tempat lainnya yang memakai tanah merah," pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved