Breaking News:

Senyum Sumringah Mbah Supiah, Rumahnya Terpilih Untuk Dibedah

Dari wajah Mbah Supiah (71) yang sudah keriput karena usia, terpancar senyuman yang sumringah mengetahui rumah miliknya

Penulis: M. Ardiansyah | Editor: Prawira Maulana
IST
Wakil Bupati Banyuasin H Slamet Somosentono ketika melihat dan menyerahkan sumbangan dari BAZNAS untuk pembangunan rumah Mbah Supiah, Kamis (14/10/2021). 

TRIBUNSUMSEL.COM, BANYUASIN - Dari wajah Mbah Supiah (71) yang sudah keriput karena usia, terpancar senyuman yang sumringah mengetahui rumah miliknya yang akan dibedah.

Rumah Mbah Supiah yang berada di Lorong Pendawa RT 13 RW 06 Lingkungan 3 Kelurahan Air Batu Kecamatan Talang Kelapa  kabupaten Banyuasin, cukup jauh berada di pemukiman penduduk lain. Untuk menuju ke rumah Mbah Supiah juga, harus melalui jalan tanah. Apabila hujan, maka siap-siap akan melalui jalan yang becek.

Saat tiba di rumah Mbak Supiah, terlihat rumah yang terbuat dari papan. Dinding rumah Mbah Supiah, juga terlihat sudah banyak yang rusak termakan usia. Bahkan, ada dindingnya yang sengaja ditutupi menggunakan seng bekas.

Mbak Supiah, terlihat sumringah saat di datangi Wakil Bupati Banyuasin H Selamet Somosentono untuk melakukan peletakan batu pertama pembangunan rumahnya. Umurnya yang sudah melebihi setengah abad, tetapi tubuhnya masih terlihat gagah ketika berjalan dan menghampiri wakil bupati yang mendatangi rumahnya.

Spontan, ia mengucapkan terima kasih kepada Wakil Bupati Banyuasin H Selamet Somosentono karena sudah datang dan juga membedah rumahnya.

Ketika ditemui, Mbah Supiah menceritakan saat pertama kali ia pindah dan menempati rumahnya. Saat itu, menurutnya hampir seluruh wilayah di tempat tinggalnya merupakan hutan. Sehingga, saat itu ia dan suaminya berinisiatif untuk membeli tanah dan membangun pondok.

"Dulu kerjanya membuat batu bata, tetapi tidak bisa buat rumah dari batu bata. Namanya kerja sama orang, jadi batu bata juga harus beli. Makanya, buat rumahnya pakai papan," katanya sambil tersenyum, Kamis (14/10/2021).

Meski hanya bisa membangun rumah dari papan, ia dan suaminya saat itu sangat bersyukur. Setidaknya, ia dan suami serta tiga anaknya tidak kepanasan dan kehujanan.

Namun, seiring berjalannya waktu dan sang suami meninggal, ia hanya tinggal bersama anak-anaknya. Dua anaknya yang lain, akhirnya pindah rumah setelah menikah.  Sekarang, ia tinggal bersama satu anaknya bernama Iskandar di rumah tersebut.

"Bagaimana mau memperbaiki, untuk kebutuhan sehari-hari saja kadang masih kekurangan. Jadi, untuk memperbaiki rumah, sebisanya saja," kata Mbah Supiah.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved