Breaking News:

Berita Daerah

Di Daerah Sragen Ini, Warga Dilarang Mendengarkan Lagu Sinden, Rentetan Peristiwa Pernah Terjadi

Warga di Singomodo dilarang mendengarkan atau membunyikan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh sinden atau sosok yang bernyanyi mengiringi orkestra gamelan

Editor: Slamet Teguh
TribunSolo.com/Septiana Ayu
Makam Syekh Muhammad Nasher atau yang terkenal disebut Mbah Singomodo di Dukuh Singomodo, Desa Kandang Sapi, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen. 

Area pantangan berlaku di satu RT di Dukuh tersebut, atau di sekitar makam Syekh Muhammad Nasher.

Slamet mengatakan dulu pernah ada seorang warga desa yang nekat membunyikan radio, hanya sebagai hiburan saja.

"Namanya manusia, ya ingin mencari hiburan, akhirnya nekat membunyikan lagu sinden, walaupun nggak keras, orang dan radionya hilang tanpa jejak hingga sekarang belum ketemu," katanya.

Selain itu, waktu salah satu warga menggelar hajatan, dua orang yang bertugas sebagai operator sound system mengatakan dengan lancang, jika dia tidak percaya dengan hal tersebut.

Kemudian, ketika hajatan sedang istirahat pada waktu jam maghrib, kedua tersebut pergi mandi di sendang tak jauh dari lokasi hajatan. 

"Waktu selesai, dua orang tersebut ingin kembali ke tempat hajatan yang tak jauh dari sendang, tapi saat mau kembali mereka hanya berputar-putar dari sendang, makam, masjid, begitu terus," terangnya.

Kemudian, menurut Slamet, warga lalu bertemu dengan kedua soundman tersebut.

Saat ditanya mau ke mana, mereka menjawab sedang mencari arah balik ke tempat hajatan. 

Warga yang menemui kedua pria tersebut bingung, karena dari posisi mereka berada, sudah terlihat tempat hajatan tersebut. 

Kedua orang tersebut diantar ke tempat hajatan, dan ketika sampai mereka tersadar dan kemudian pingsan. 

Selain hal itu, kejadian juga menimpa warga Purwadadi yang waktu itu merupakan seorang sopir travel yang mengantar santri untuk ziarah ke makam Syekh Muhammad Nasher.

Sampai di area parkir makam, sopir tersebut memutar radio dengan saluran hiburan tayub, yang biasanya diiringi oleh sinden.

Dengan ketidaktahuannya, kemudian ia mendengarkan lantunan tayub di dalam mobilnya. 

"Sempat diperingatkan oleh warga, kalau tidak boleh mendengarkan sinden, kemudian mereka pulang dan melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur," ujarnya.

"Sampai di Mantingan, Ngawi keempat ban travel tersebut kempes, kemudian mereka mencari tukang tambal ban, dan ketemu di Banaran, Sragen," tambahnya. 

Saat dicek oleh tukang tambal ban, ternyata tidak ada kebocoran pada ban travel tersebut.

Dengan rentetan kejadian tersebut, Slamet berharap siapapun yang datang ke Singomodo, untuk mengikuti adat dan kepercayaan yang ada. (*)

Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Di Daerah Sragen ini, Warga Percaya Dengarkan Lagu Sinden Bisa Bikin Terjebak di Dunia Lain.

Sumber: Tribun Solo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved