Breaking News:

Perempuan Dalam Islam

Bolehkah Perempuan Menjadi Wali Nikah, Imam 4 Mazhab Beda Pendapat, Ini Penjelasannya

Wali nikah dalam hukum perkawinan merupakan rukun yang harus dipenuhi oleh calon mempelai wanita yang bertindak menikahkannya.

Penulis: Vanda Rosetiati | Editor: Vanda Rosetiati
tribunsumsel.com/khoiril
Ilustrasi Bolehkah perempuan menjadi wali nikah. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Pernikahan merupakan sunatullah yaitu makhluk yang bernyawa itu diciptakan berpasang-pasangan, baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini sesuai Alquran Surat Dzariyat :49 berarti.

"Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah".

Perkawinan menurut Islam merupakan ibadah yaitu terlaksananya perintah Allah SWT atas petunjuk Rasul-Nya yakni terpenuhinya rukun dan syarat nikah. Salah satu rukun nikah yaitu adanya wali nikah selain empat syarat lainnya yakni ada calon mempelai laki-laki, ada calon mempelai perempuan, ada dua saksi laki-laki serta ada ijab dan qobul. 

Wali nikah adalah orang yang menikahkan seorang wanita dengan seorang laki-laki. Karena wali nikah dalam hukum perkawinan merupakan rukun yang harus dipenuhi oleh calon mempelai wanita yang bertindak menikahkannya. Hukum nikah tanpa wali nikah berarti pernikahannya tidak sah.

Ketentuan ini berdasarkan pada hadist Nabi Muhammad SAW yang mengungkapkan tidak sah dalam perkawinan, kecuali dinikahkan oleh wali. Status wali nikah dalam hukum perkawinan menurut Islam ini merupakan rukun yang menentukan sahnya akad nikah atau perkawinan.

لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ، وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ.

“Dari Abu Musa dari bapaknya, berkata: bersabda Rasulullah saw:”Tidak sah nikah kecuali dengan wali”. (HR. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmizi, Ibnu Hibban dan al-Hakim serta dinyatakannya sebagai hadis shahih)

Umumnya wali nikah adalah seorang lelaki tetapi bolehkah perempuan menjadi wali nikah dalam Islam, berikut penjelasan hukum wanita menjadi wali nikah yang Tribun himpun dari beberapa sumber.

a. Menurut Imam Mazhab Syafi’i , kehadiran wali menjadi salah satu rukun nikah, yang berarti tanpa kehadiran wali nikah ketika melakukan akad nikah perkawinan tidak sah.
Bersamaan dengan ini imam Syafi’I juga berpendapat wali dilarang mempersulit perkawinan wanita yang ada di bawah perwaliannya sepanjang wanita mendapat pasangan yang sekufu.
Syarat wali menurut imam Syafi’i adalah bahwa wali nikah harus laki-laki, maka tidak sah perwalian seorang perempuan dalam kondisi apapun.

b. Menurut Imam Mazhab Hanafi, wanita yang telah baliqh dan berakal sehat boleh memilih sendiri suaminya dan boleh pula melakukan akad nikah sendiri, baik dia perawan maupun janda.
Tidak seorang pun yang mempunyai wewenang atas dirinya atau menentang pilihannya, syarat, orang yang dipilih nya sekufu dengannya. Jika tidak maka walinya boleh menentangnya dan meminta qadhi yakni hakim yang memutus perkara untuk membatalkan akadnya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved