Breaking News:

HI Fisip Unsri Gelar Pelatihan Peningkatan Nilai Tambah Produk Olahan Sirup Jeruk Kunci

Pandemi covid-19 berdampak besar pada sebagian warga desa Kerinjing Ogan Ilir Sumatera Selatan.

Editor: Prawira Maulana
FISIP UNSRI.
HUBUNGAN INTERNASIONAL FISIP UNSRI GELAR PELATIHAN PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK OLAHAN SIRUP JERUK KUNCI MASYARAKAT DESA KERINJING. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Pandemi covid-19 berdampak besar pada sebagian warga desa Kerinjing Ogan Ilir Sumatera Selatan. Sebagian warga banyak yang kehilangan pekerjaan, bahkan basis usaha desa
lainnya seperti menjahit, membuat kemplang, juga ikut terkena dampak. Kondisi ini perlu
menjadi perhatian besar untuk segera diatasi guna memberikan perbaikan kehidupan dan
stabilitas ekonomi bagi warga. Berangkat dari persoalan ini, perlunya melihat peluang-peluang
lain sebagai cara dalam penyelesaian masalah ini.

Salah satu potensi besar desa Kerinjing- Ogan Ilir yang belum termanfaatkan adalah potensi perkebunan Jeruk kunci yang merupakan penghasil terbesar di tingkat kabupaten, namun sayangnya belum diolah dengan baik dalam bentuk produk- produk unggul. Harga jual jeruk kunci yang relatif tidak stabil bahkan pernah menyentuh harga Rp 500 per kilo membuat pendapatan warga juga menjadi tidak menentu.

Melihat kondisi ini, Program Studi Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNSRI menggagas sebuah Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Desa Kerinjing Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan pada kamis, 23 September 2021. Kegiatan yang diketuai oleh Sari Mutiara Aisyah, S.IP., MA, dengan anggotakan Abdul Halim, S.IP., MA, Indra Tamsyah, S.IP., M.Hub.Int, dan beberapa mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNSRI dan Mahasiswa Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian UNSRI, yang terlibat langsung dalam kegiatan ini.

Sasaran kegiatan ini meliputi ibu-ibu PKK dan Pemuda Karang Taruna Desa Kerinjing. Kegiatan ini ditujukan untuk mendorong masyarakat agar menyadari produk unggulan desa dan “melek” terhadap nilai ekonomis dari aktifitas nilai tambah olahan sirup jeruk kunci.

“Potensi bahan baku yang dimiliki dan kemampuan masyarakat yang mengembangkan produk ini sudah ada, akan tetapi tingkat pemahaman masyarakat untuk mengoptimalkan potensi produk olahan sirup jeruk kunci serta menjadikannya pendapat asli desa masih belum maksimal.

Inilah potret yang banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia, utamanya petani hasil perkebunan. Mengandalkan penjualan bahan mentah atau tanpa dikenakan nilai tambah pada kondisi permintaan pasar yang tidak stabil, belum lagi muncul pemain baru dari negara lain yang memiliki kualitas bahan mentah hasil pertanian yang lebih baik, makin melemahkan akses pasar yang dimiliki oleh petani Indonesia di pasar internasional. Sementara, tingkatan nilai ekonomis yang didapat juga berbeda, bergantung dari pengenaan nilai tambah, misal harga jeruk kunci saat ini Rp 8000 penjualan tertinggi per kilo, dari satu kilo jeruk ini dapat di produksi 1 liter sirup jeruk kunci, dikemas dalam kemasan 250 ml sebanyak 4 botol, dijual dengan harga pasaran terendah Rp 20.000 per botol, maka akan ada 10 kali lipat tingkatan nilai ekonomis yang bisa didapat,” kata ketua tim, Tiara, usai memaparkan materi pembuka pada tahap awal pelatihan berupa pemberian pemahaman mengenai tingkatan nilai ekonomis yang bisa didapat dari pengenaan aktifitas nilai tambah yang dilakukan dari komoditi pertanian.

Tiara juga menambahkan bahwa setidaknya ada 4 kelengkapan atribut produk yang harus diperhatikan agar produk olahan industri rumah tangga dapat diterima oleh pasar, yaitu 1) Kualitas Produk; 2) Merek; 3) Kemasan; 4) Label. Pada tahap Selanjutnya, adalah process upgrading, tim bersama dengan ibu-ibu PKK langsung mengolah Jeruk Kunci menjadi sirup dengan memerhatikan
critical control point sebagai pengenaan nilai tambah aktifitas proses produksi, hingga memiliki
kualitas dan daya simpan yang lebih baik. Selanjutnya, tim juga membantu mendesain merek,
kemasan juga label memuat informasi penting produk yang dibutuhkan oleh konsumen ketika
memutuskan untuk membeli.

Kegiatan pengabdian ini berlangsung dari pukul 10.00 hingga 17.30 WIB, yang mendapatkan respon baik dari masyarakat, dalam sambutan awal oleh ketua Karang Taruna sekaligus mewakili Kepala Desa Kerinjing, Yophie, “Kami merasa terhormat, terpilih menjadi desa yang didatangi oleh tim unsri, kegiatan pendampingan seperti ini sangat kami butuhkan, untuk mengembangkan kemampuan berwirausaha lebih baik lagi”, terangnya.

Selain itu, juga dapat dilihat bahwa tingginya antusiasme ibu-ibu PKK dalam mendengarkan dan
mempraktekkan langsung proses produksi hingga ketahap akhir pengemasan. Hasil penelusuran
evaluasi kegiatan melalui lembar kuesioner didapati bahwa semua peserta menyatakan kegiatan
ini telah memberikan pengetahuan terkait apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan,
memperbaiki, dan mengembangkan produk usaha.

Harapannya kegiatan yang telah dimulai pada tahun ini dapat terus berlanjut hingga
tahapan berikutnya dengan maksimal. Kolaborasi antara tim pengabdian dan masyarakat dalam
pelaksanaan tahapan multi tahun yang dirancang oleh Program Studi Ilmu Hubungan
Internasional UNSRI pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat mengoptimalkan
wirausaha produk “Sirup Jeruk Kunci” Desa Kerinjing yang berkorelasi pada peningkatkan taraf
perokonomian masyarakat desa. “Kami berharap setelah ini, melalui sirup jeruk kunci sebagai
pilot project, tidak hanya dari akademisi yang berperan, namun diperlukan juga sinergi dengan
pemerintah daerah untuk memperkuat daya dorong pengembangan ekonomi di Desa Kerinjing
yang berpotensi menjadi identitas baru yang diharapkan dapat dikenal di tatanan nasional atau
bahkan internasional” ujar Tiara.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved