Breaking News:

Berita Palembang

Cerita Pelaku UMKM Eksis di Masa Pandemi, Keroyokan Bikin Ribuan Masker, Hingga Cetak Kartu vaksin

Berbagai upaya dilakukan UMKM mulai dari memodifikasi dan mendiferensiasi produk hingga mengubah jenis usaha.Tujuannya teksis memenuhi hajat hidup.

Penulis: Vanda Rosetiati | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/VANDA ROSETIATI
Berbagai cara dilakukan pelaku UMKM untuk tetap eksis di masa Pandemi. UMKM produk fesyen membuat masker dan pelaku UMKM produk percetakan membuat kartu vaksin. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Pertama kali Indonesia mengkonfirmasi kasus Covid-19 pada Maret 2020. Sejak pandemi menyerang, banyak sektor ekonomi di Indonesia yang terpukul. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor terdampak pandemi Covid-19. Selama lebih 1,5 tahun ini cukup banyak UMKM yang terpaksa gulung tikar karena memang terjadinya penurunan pendapatan bahkan ada yang sama sekali kehilangan pendapatan.

Namun, cukup banyak juga UMKM yang mencoba bertahan di tengah kesulitan ekonomi akibat wabah virus corona ini. Berbagai upaya dilakukan UMKM mulai dari variasi, memodifikasi dan mendiferensiasi produk hingga mengubah jenis usaha. Tujuannya tidak lain adalah tetap eksis bertahan untuk memenuhi hajat hidup.

Salah satu UMKM yang tetap berusaha eksis adalah Kapita Craft. Bergerak di bidang fesyen, UMKM ini menyediakan beragam produk craft untuk bayi, balita dan aneka aksesoris kebutuhan rumah tangga.

Owner Kapita Craft, Sonia Oktaria menuturkan pasca resign dari salah satu perusahaan swasta nasional di pertengahan tahun 2018 dirinya fokus mengurus usaha aneka produk craft. Ragam produk yang dihasilkan UMKM miliknya adalah baby set, bantal menyusui juga kursi bayi. Produk lain adalah gorden, taplak meja, bantal kursi, seprei dan bed cover juga hiasan antaran pengantin.

Belum berjalan dua tahun usahanya, wabah pandemi Covid-19 melanda. Pesanan yang mulai banyak dari pelanggan di tahun 2019 atau tahun pertama usaha dirintis harus terimbas pandemi di tahun kedua.

"Untuk baby set contohnya, jika sebelum pandemi bisa 10 set tiap bulan, saat awal pandemi lalu mungkin tidak sampai 3 yang pesan. Untuk produk yang kita buat memang by request, pelanggan pesan baru dibuatkan," kata Sonia ditemui di rumah sekaligus tempat usahanya di Jalan S Parman, Lr Citra, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami, Palembang, Sabtu (25/9/2021).

Nyaris katanya tidak ada order di awal-awal pandemi. Beberapa pelanggan justru membatalkan pesanan karena memang mungkin dananya dialihkan untuk keperluan lain. "Jika pun ada itu pesanan lama, pelanggan sudah bayar sebagian uangnya dan barangnya diambil sesuai waktu yang disepakati," kata ibu tiga anak ini.

Sama seperti pelaku usaha lainnya, kata wanita 33 tahun, dirinya memutar otak bagaimana usaha fesyennya tetap bisa jalan di tengah keterbatasan di masa pandemi. Untuk menurunkan harga adalah hal yang rasanya tidak mungkin, karena memang semuanya sudah dihitung sesuai harga pasaran setelah dipotong harga bahan baku dan biaya produksi. Rata-rata produk yang dijual mulai Rp 150 ribu hingga jutaan rupiah sesuai bahan yang digunakan juga tingkat kerumitan pengerjaan.

"Saat itu kepikiran bagaimana coba buat masker. Apalagi waktu itu masker medis sempat langka, jadi saya buat masker kain yang bahannya memanfaatkan bahan kain katun untuk baby set yang memang sudah ada," katanya.

Sekali waktu kata Sonia, masker kain hasil produksinya ini diikutkan pameran produk UMKM di Palembang sekitar Agustus-September 2020. "Waktu itu saya tidak ikut pameran, cuma memang contoh produk dipamerkan. Tiba-tiba ada panitia pameran menghubungi dan menanyakan bisa tidak jika masker yang saya buat itu diproduksi dalam jumlah banyak, dalam 3 hari saya harus buat 600 masker," katanya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved