Breaking News:

Berita Musi Rawas

Pengeringan Irigasi Tugumulyo Musi Rawas, Sebagian Petani Padi Beralih Tanam Jagung

Pengeringan irigasi Tugumulyo Musi Rawas dilakukan sejak 16 September 2021 sampai dengan awal Januari 2022 mendatang.

SRIPOKU/AHMAD FAROZI
Darmaji, seorang petani Desa Air Satan Kecamatan Muara Beliti beralih menanam jagung di lahan sawahnya, Selasa (21/9/2021). Sebagian Petani didesanya menanam jagung karena lahan sawah tak mendapat pasokan air disebabkan pengeringan irigasi Tugumulyo Musi Rawas. 

TRIBUNSUMSEL.COM, MUSIRAWAS - Sebagian areal pesawahan petani di Kabupaten Musi Rawas terdampak pengeringan irigasi.

Sehingga petani tak bisa menggarap lahan sawahnya, karena tidak mendapat pasokan air dari saluran irigasi yang dikeringkan tersebut.

Pengeringan irigasi itu sendiri dilakukan sejak 16 September 2021 sampai dengan awal Januari 2022 untuk perbaikan jaringan yang rusak.

Selama masa pengeringan yang akan berlangsung sekitar empat bulan lamanya, sebagian petani di Kabupaten Musi Rawas beralih ke tanaman palawija.

Antara lain menanam jagung yang bibitnya disuplai oleh Dinas Pertanian Kabupaten Musi Rawas.

"Selama pengeringan ini, saya dan teman-teman disini menanam jagung. Biasanya kami menanam padi, tapi karena sawah tak dapat air, maka sekarang kami menanam jagung," kata Darmaji (52) salah seorang petani di Desa Air Satan Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas, kepada Sripoku.com, Selasa (21/9/2021).

Dikatakan, luas lahannya sekitar tiga perempat hektar. Di lahan seluas itu, dia menanam jagung dengan bibit sebanyak 13 kg.

Menurutnya, bibit yang ditanam di lahannya tersebut bantuan dari Dinas Pertanian Kabupaten Musi Rawas.

"Saya sudah 15 hari ini menanam jagung. Kebetulan di lahan saya ini, panen padi menjelang pengeringan. Jadi daripada nanti tak dapat air, maka setelah panen, langsung saja lahan sawah ini saya tanami jagung. Bibitnya lumayan bagus, bisa dilihat dari pertumbuhannya sudah cukup lumayan," kata Darmaji.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Air Satan Kecamatan Muara Beliti, Artono mengatakan, luas areal pesawahan diwilayahnya sekitar 460 hektar.

Dari total luas lahan tersebut, yang terdampak pengeringan irigasi sekitar 75 hektar.

Sementara sebagiannya, sudah memasuki masa panen dan sebagian baru saja panen sehingga tidak lagi memerlukan suplai air yang banyak seperti kebutuhan air ketika akan memulai masa tanam baru.

"Kalau disini, luas lahan sawah yang terdampak pengeringan irigasi sekitar 75 hektar, tersebar di lima kelompok tani. Terhadap lahan petani yang terdampak pengeringan ini, sudah disediakan bibit jagung merek pioner, untuk tanaman sela selama proses pengeringan irigasi," kata Artono.

Baca juga: Brigpol AW Anggota Polres Musi Rawas Dipecat, Tak Bertugas Semestinya

Sementara itu, berdasarkan data di Dinas Pertanian Kabupaten Musi Rawas, luas lahan pesawahan yang terdampak pengeringan irigasi sekitar 7000 hektar dari total luas lahan se Kabupaten Musi Rawas sekitar 22.640 hektar.

Pihak Dinas Pertanian Kabupaten Musi Rawas telah menyiapkan bibit jagung untuk lahan seluas 7000 hektar tersebut, sebagai tanaman pengganti selama proses pengeringan berlangsung, yang diperkirakan memakan waktu sekitar empat bulan (SP/AHMAD FAROZI)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved