Breaking News:

Sekat Kanal Perdana Dibangun di Desa Siju Sumsel, Ini Harapan Warga

Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) untuk pertama kalinya membangun sekat kanal di Desa Siju, Kecamatan Rambutan

Editor: Prawira Maulana
BRGM
Pokmas sedang membangun Infrastruktur Pembasahan Gambut Sekat Kanal. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) untuk pertama kalinya membangun sekat kanal di Desa Siju, Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Pembangunan tersebut merupakan salah satu upaya dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). 

Siabang, selaku Bendahara Kelompok Masyarakat (Pokmas) Desa Siju menjelaskan pembangunan sekat kanal di wilayahnya terbagi dalam dua tahapan, di mana tahap pertama sudah berjalan 80 persen. 

“Sekat kanal yang dibangun di Desa Siju rencananya ada lima sekat kanal yang terbagi dalam dua tahap, tahapan pertama yaitu tiga sekat kanal dan tahap kedua yaitu dua sekat kanal,” ujar Siabang. 

“Prosesnya sendiri yaitu tim pokmas yang awalnya terdiri dari 21 orang dibagi dalam 3 kelompok, di mana masing-masing kelompok membangun satu sekat kanal, sehingga tahap pertama pun kini hampir rampung,” sambungnya. 

Sementara itu, Kepala Desa Siju, Marwah menyambut positif program Restorasi Gambut yang dilakukan oleh BRGM dengan membangun sekat kanal di desanya. Namun dirinya tak menampik jika ada warga yang terdampak akibat sekat kanal, karena dari 2.200 penduduk Desa Siju, 50 persen di antaranya menggantung hidup dengan mencari ikan. 

“Mata pencaharian warga, salah satunya mencari ikan, namun karena ada sekat kanal, perahu masyarakat agak kesulitan melewatinya. Mereka pun berharap ada bantuan ternak, agar warga yang menggantungkan hidupnya dengan mencari ikan bisa beralih ke peternakan,” ungkap Marwah. 

Lebih lanjut Marwah berkelakar, BRGM sendiri berencana akan melakukan Revitalisasi Sumber Mata Pencaharian Masyarakat (R3) kepada warga yang terdampak. 

“Warga desa berharap kalau bisa bantuan R3 dari BRGM ini lebih ke pelatihan peternakan sapi, karena sapi di Kecamatan Rambutan lebih menjanjikan dan berkembang cepat,” pungkasnya. 

Menurut Marwah, jika bantuan ternak bisa segera direalisasikan, maka kebakaran hutan dan lahan di Desa Siju tidak akan terjadi.  Pasalnya, sejak ada larangan membakar lahan untuk bertani, kebakaran 65 persen sudah berkurang, apalagi ada program bantuan ternak sapi nantinya, "mudah-mudahan tahun depan 100 persen kebakaran kita sudah tidak ada lagi, sehingga masyarakat pun bisa sejahtera,” pungkasnya. 

Menurut Soesila, Kepala Kelompok Kerja Wilayah Sumatera, bantuan R3 diberikan sebagai insentif agar masyarakat menjaga infrastruktur pembasahan yang sudah dibangun, juga turut dalam perlindungan lahan gambut di desa. 

Tambah Soesilo, peternakan sapi ini selain menguntungkan secara ekonomi, juga secara ekologi, mengingat pakan sapi adalah rerumputan yang tumbuh di lahan gambut basah. (Reza)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved