Breaking News:

Santri Meninggal Diduga Dianiaya

Ponpes Al Furqon Prabumulih Sampaikan Kronologi Dugaan Penganiayaan Santri Hingga Meninggal

Peristiwa penganiayaan terjadi pada 19 Agustus lalu pada tanggal 22 Agustus KLA meminta izin untuk pulang karena mengalami sakit.

Penulis: Edison | Editor: Yohanes Tri Nugroho
Dokumen Pribadi
Sekretaris Pondok Pesantren Modern Al Furqon Prabumulih, Roin Al Hadi SPdI MHum menjelaskan kronologis dugaan penganiayaan yang menyebabkan santrinya meninggal dunia 

Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Edison Bastari

TRIBUNSUMSEL.COM, PRABUMULIH - Sekretaris Pondok Pesantren Modern Al Furqon Prabumulih, Roin Al Hadi SPdI MHum mengungkapkan santri inisial KLA meninggal dunia setelah lebih dari dua pekan diduga dianiaya oleh kakak tingkatnya inisial W.

"Jadi berdasarkan rekaman CCTV menyebutkan kejadian itu pada 19 Agustus 2021, santri kita KLA meninggal dunia di rumah sakit pada 5 September 2021," kata Roin kepada Tribunsumsel.com, Kamis (9/8/2021).

Adapun kronologis lengkapnya kata Roin, peristiwa penganiayaan terjadi pada 19 Agustus lalu pada tanggal 22 Agustus KLA meminta izin untuk pulang karena mengalami sakit.

"Saat izin itu sakit disampaikan keluhan hilang suara bukan luka-luka, maupun luka lainnya," katanya.

Setelah diizinkan pulang tersebut, hingga tanggal 30 Agustus 2021 KLA tak kembali lagi ke pesantren dan yang datang hanya orang tua yang bersangkutan.

"Orang tuanya menyampaikan KLA tidak mau ke pesantren dan mengundurkan diri, lalu kita gali informasi dan wali mengatakan anaknya pernah mengalami tindak kekerasan oleh kakak kelasnya di asrama sebagai pembimbing," bebernya.

Mengetahui itu pihak pesantren lalu melakukan pemeriksaan dan kemudian mengundang kedua wali santri untuk didamaikan namun karena KLA sudah mengundurkan diri maka tidak jadi.

"Kemudian pada tanggal 2 September orang tua KLA datang ke keluarganya di dekat pesantren yang juga merupakan security pesantrean menyampaikan jika anaknya sudah keluar pesantren dan pernah dipukul kakak tingkat inisial W, kita sampaikan saat itu akan diproses," tuturnya.

Kemudian kata Roin, pada tanggal 5 September yang bersangkutan masuk rumah sakit dan diagnosis sementar saat itu diketahui karena pneumonia dan trombosit rendah namun dua hari di rumah sakit KLA dinyatakan meninggal.

"Adapun penyebab pasti meninggalnya kami tidak tahu pasti, ini menjadi wewenang pihak rumah sakit dan kepolisian untuk menyelidiki namun memang karena kami sudah antisipasi kejadian seperti ini. Makanya kita pasang cctv, pengawasan dari guru dua orang. Ada peraturan yang jelas, dimana tidak boleh memukul dalam bentuk apapun seluruh hukuman sudah ditentukan dan tidak ada berbentuk fisik," bebernya.

Meski ini musibah namun pihak pondok pesantren kooperatif dengan sudah ke polres dan kami berharap agar yang salah diadili seadil-adilnya dan pihak pondok juga berduka serta selalu datang memgikuti takziah di rumah korban.

Baca juga: Kesedihan Masnitaria, Santri Meninggal Diduga Dianiaya Sempat Minta Dipeluk Ibu

Disinggung apakah setelah pemukulan pada 19 Agustus santri KLA masih mengikuti pembelajaran, Roin mengaku tanggal 20 dan 21 agustus almarhum masih mengikuti pembelajaran.

"Pada 19 Agustus kejadian, 20 dan 21 masih mengikuti pembelajaran. Senior melakukan inisial W, di sini ada istilah organisasi santri kepanjangan ustad dan ustazah namun masih dalam pengawasan namun hukuman diberikan memang diluar ketentuan. Semestinya melakukan hukuman poin dan non fisik misal menghapal, menulis Alquran, membersihkan lingkungan dan lainnya," tambahnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved