Breaking News:

Kasus Sumbangan Rp 2 Triliun

Heryanty Diobservasi di RS Jiwa, Ini Tanggapan Humas RSJ Ernaldi Bahar

Kehebohan kasus dugaan sumbangan fiktif sebesar Rp.2 triliun yang didengungkan Heryanty, putri bungsu mending Akidi Tio kembali mencuat. 

Penulis: Shinta Dwi Anggraini | Editor: Prawira Maulana
Heryanty Diobservasi di RS Jiwa, Ini Tanggapan Humas RSJ Ernaldi Bahar
SHINTA
Humas RS Jiwa Ernaldi Bahar, Iwan Andhyantoro.

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Kehebohan kasus dugaan sumbangan fiktif sebesar Rp.2 triliun yang didengungkan Heryanty, putri bungsu mending Akidi Tio kembali mencuat. 

Sebab Heryanty dibawa ke rumah sakit jiwa untuk menjalani observasi guna mengetahui kondisi kesehatan jasmani dan rohaninya. 

Saat dikonfirmasi, Humas RS Jiwa Ernaldi Bahar, Iwan Andhyantoro enggan berkomentar terkait kepastian benar atau tidaknya Heryanty menjalani observasi di rumah tersebut. 

"Kami mempunyai tanggung jawab untuk menjunjung kerahasiaan bagi setiap pasien," ujarnya, Rabu (8/9/2021). 

Dia menjelaskan, kerahasiaan itu diterapkan berlandaskan undang-undang kerahasiaan bagi setiap pasien. 

"Jadi berlandaskan undang-undang ini, kami tidak punya kewenangan hukum untuk memberikan informasi terkait yang bersangkutan (Heryanty)," ungkapnya. 

Sementara itu, saat disinggung terkait lamanya waktu bagi seseorang untuk menjalani observasi di rumah sakit jiwa, Iwan menjelaskan, setidaknya tahap tersebut membutuhkan waktu minimal 14 hari. 

Namun lama waktunya bisa lebih panjang bila petugas menghadapi kendala dari pasien yang diperiksa. 

"Jadi proses observasi ini nanti bisa lebih lama kalau ada hal penyulit karena orang yang kita periksa adalah orang dengan gangguan kejiwaan," ujarnya. 

"Ada yang tidak kooperatif, ada yang mengalami gangguan komunikasi. Ini yang sering kali jadi kendala dan penghambat bagi kami dalam melakukan observasi terhadap pasien yang dikirim kepada kami," katanya menambahkan. 

Disisi lain, Iwan juga menegaskan setiap proses pemeriksaan yang dijalani akan bisa mengungkap kondisi sebenarnya dari kejiwaan pasien tersebut. 

"Dengan serangkaian proses pemeriksaan, pasien yang berbohong tentu akan ketahuan. Apakah yang bersangkutan pura-pura sakit jiwa atau betul-betul sakit jiwa," ujarnya. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved