Breaking News:

Berita Palembang

Cerita Taufik Penerima Bantuan Bedah Rumah, Atap Banyak Bocor Langganan Kebanjiran

Taufik penerima bantuan bedah rumah dari Pemprov Sumsel ini menuturkan atap rumahnya banyak bocor dan langganan kebanjiran.

Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/LINDA TRISNAWATI
Taufik yang rumahnya dibedah, di Jalan Timor, Nomor 149, Kelurahan Lorok Pakjo, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang, Rabu (1/9/2021). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Sebanyak 75 rumah dibedah Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Bedah rumah ini hasil bantuan ASN, BUMN dan BUMD, dalam rangka HUT Provinsi Sumsel ke 75.

Salah satu rumah yang dibedah yaitu rumah Taufik yang ada di Jalan Timor, nomor 149, Kelurahan Lorok Pakjo, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang.

Mengawali ceritanya, Taufik penerima bantuan bedah rumah dari Pemprov Sumsel ini menuturkan atap rumahnya banyak bocor dan langganan kebanjiran.

"Terimakasih kepada Gubernur Sumsel dan pihak terkait yang sudah membantu membedah rumah saya," kata Taufik usai acara Peresmian Bedah Rumah di Jalan Timor, Rabu (1/9/2021).

Pria berusia 43 tahun ini menceritakan, bahwa rumahnya sudah ada sejak 1980. Karena keterbatasan keuangan maka hingga kini rumah tersebut belum direnovasi, sehingga terlihat reot.

Menurutnya, rumahnya ini terbuat dari kayu yang beratapkan seng. Di sana sini sudah banyak yang bocor, jadi kalau hujan bocor. Apalagi lokasi rumahnya di depan bantaran sungai.

"Jadi kalau hujan deras suka banjir, bahkan pernah banjir sampai lutut. Pernah juga saat masih tidur tahu-tahu sudah ngambang kena banjir, sebab kami tidurnya di bawah," ceritanya.

Dengan dibedah, rumah Taufik kini sudah terlihat lebih kokoh, dengan berdinding dari batako dan beratapkan rangka baja.

"Rumah ini dibedah selama dua minggu. Jadi selama dibedah saya tinggal di belakang rumah, dikontrakkan dari pemerintah," kata Taufik yang sehari-hari bekerja sebagai penggali kubur.

Baca juga: Rayakan HUT ke-75, Pemprov Sumsel Bedah 75 Rumah, Bantuan ASN juga BUMD dan BUMN

Menurut Taufik, penghasilannya sebagai penggali kubur hanya cukup untuk makan sehari-hari. Bahkan terkadang ia tidak memiliki penghasilan, sebab tidak setiap hari menggali kubur.

"Penghasilan tidak tentu, kadang ada kadang nggak. Kalau ada hanya Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu sehari. Jadi kalau nggak ada gali kubur saya kerjanya serabutan, kadang jadi kuli bangunan," ungkapnya.

Taufik menceritakan, bahwa ia tinggal bersama satu anaknya dan orang tuanya. Sedangkan istrinya baru tujuh bulan meninggal karena sakit.

Baca berita lainnya langsung dari google news

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved