Breaking News:

Penjual Seragam di Lubuklinggau Senang PTM Mulai Digelar, Sempat Kesusahan Bayar Tagihan Bank

Sudah sepekan terakhir Sekolah pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di Kota Lubuklinggau Sumatera Selatan (Sumsel)

Penulis: Eko Hepronis | Editor: Prawira Maulana
EKO HEPRONIS/TRIBUNSUMCEL.COM
Istri Edi saat menunjukkan seragam sekolah jualannya di Jl Garuda Hitam depan Gedung Juang Kelurahan Pasar Pemiri Kecamatan Lubuklinggau Barat II. 

Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Eko Hepronis

TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU -- Sudah sepekan terakhir sekolah pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di Kota Lubuklinggau Sumatera Selatan (Sumsel) untuk PAUD/TK, Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) digelar.

Sejak diumumkan sekolah tatap muka ini digelar masyarakat mulai sibuk mencari seragam dan perlengkapan sekolah lainnya.

Aktivitas ramai mulai terlihat di beberapa toko seragam sekolah. Beberapa pedagang pun mengaku omzet penjualan mereka meningkat semenjak sekolah digelar.

Salah satunya Toko Irfan Jaya milik Edi penjual perlengkapan seragam sekolah di Jl Garuda Hitam depan Gedung Juang  Kelurahan Pasar Pemiri Kecamatan Lubuklinggau Barat II. 

Edi mengaku sangat bersyukur sekolah tatap muka di Kota Lubuklinggau sudah kembali digelar, para penjualan seragam sekolah yang semula kehilangan gairah kini kembali sumringah.

"Alhamdulillah ada peningkatan drastis semenjak sekolah tatap muka di gelar, tapi tidak seramai sebelum Corona," kata Edi pada Tribunsumsel.com, Selasa (31/8/2021).

Menurutnya sejak sepekan terakhir penjualan pakaian dan alat-alat sekolah di toko miliknya meningkat 50 persen bila dibanding hari -hari biasa.

"Peningkatannya 50 persen lah, dulu pernah waktu covid tidak ada yang beli sama sekali, sekarang berangsur mulai banyak lagi, sehari bisa 10-12 pakaian terjual," ujarnya.

Ia pun bercerita awal tahun kemarin karena PTM di Lubuklinggau tak ada kejelasan, ia bersama istrinya sempat kepikiran mengganti produk jualan dari pakaian sekolah ke pakaian sehari-hari.

"Kemarin sempat ingin beralih jual pakaian  biasa, malahan kemaren sudah membeli tempat gantungannya. Tapi alhamdulillah sekolah sekarang dibuka lagi, jadi untuk sementara tetap jualan pakaian sekolah," ungkapnya.

Munculnya rencana ganti produk jualan itu bermula dari Edi dan istrinya yang sudah membeli bahan dasar seragam dalam jumlah banyak, namun ketika sudah dibeli ternyata PTM di undur.

"Stok bahan sudah banyak tapi sekolah tidak jadi, akhirnya karena modal kita menggunakan pinjaman bank untuk membayar angsurannya, kita ingin beralih, karena bank nagih terus, alhamdulillah sudah lunas sekarang," ujarnya. (Joy)  

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved