Pilpres 2024

Pengamat Ungkap Prabowo Memuji Presiden Jokowi Layaknya Narasi Hampa : Hukum Koruptor Bansos Rendah

Kemesraan Prabowo dan Jokowi jelang pilpres 2024 makin terang-terangan di hadapan publik.

Instagram
Prabowo Subianto dan Jokowi saat menjajal MRT Jakarta. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Kemesraan Prabowo dan Jokowi jelang pilpres 2024 makin terang-terangan di hadapan publik.

Meski berstatus pimpinan dan anak buah, nyatanya Jokowi dan Prabowo makin harmonis.

Pengamat Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menilai pujian Prabowo Subianto kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) di depan para pimpinan partai koalisi seperti narasi hampa.

Menurut Ubed, antara narasi pujian dan fakta empirik sangat jauh berbeda seperti jauh panggang dari api.

Ubed mengambil fakta empirik bahwa korupsi merajalela, indeks persepsi korupsi Indonesia memiliki skor 37 dari rentang 0 sampai 100.

"Padahal KPK sudah menjadi bagian dari lembaga eksekutif sesuai maunya Jokowi melalui revisi UU KPK 2019 lalu. Jokowi ternyata tidak berdaya dihadapan KPK, sebab faktanya tetap saja KPK melanjutkan proses TWK untuk menyingkirkan penyidik KPK yang punya integritas. Inikah yang disebut on the right track oleh Prabowo?" katanya.

Ubed juga mengatakan hukuman untuk koruptor Bansos uang rakyat miskin juga sangat rendah yakni 12 tahun, padahal undang-undang menyebutkan bahwa korupsi uang bantuan untuk bencana bisa dihukum mati, atau minimalnya seumur hidup.

"Apalagi kasusnya memang di tengah bencana pandemi Covid-19 dan uang bansos yang dikorupsi juga seharusnya untuk rakyat miskin yang terdampak akibat bencana tersebut. Inikah yang disebut Prabowo bahwa Jokowi memiliki kepemimpinan yang efektif?" katanya.

Soal pandemi, dia mempertanyakan kepemimpinan Jokowi efektif di tengah fakta dua minggu berturut-turut Indonesia menjadi negara dengan tingkat kematian akibat Covid-19 tertinggi di dunia?

"Ulama, pendeta, rohaniawan, tenaga kesehatan, para profesor, akademisi, guru, pebisnis, buruh, petani, pedagang, hingga rakyat jelata telah menjadi korban akibat kelalaian kepemimpinan yang gagal mengantisipasi lonjakan kasus pada Juli 2021 lalu. Kini sudah lebih dari 130 ribu korban kematian dari pandemi covid-19. Inikah yang disebut efektif oleh Prabowo?" ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved