Breaking News:

Berita OKI

Pasokan Air Berkurang di Musim Kemarau, Petani Sawah di Lempuing Jaya Olah Tanah Liat Jadi Batu Bata

Pasokan air berkurang di musim kemarau, petani sawah di Lempuing Jaya olah tanah liat jadi batu bata

Penulis: Winando Davinchi | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/WINANDO DAVINCHI
Proses pembakaran batu bata yang dilakukan warga Desa Sungai Belida, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Rabu (21/7/2021). Pasokan air yang berkurang di musim kemarau, petani sawah di Lempuing olah tanah liat jadi batu bata. 

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG - Pasokan air berkurang di musim kemarau, petani sawah di Lempuing Jaya olah tanah liat jadi batu bata

Saat kondisi panas matahari terik bertanda musim kemarau akan tiba, sebagian masyarakat Desa Sungai Belida, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir memanfaatkan momentum untuk membuat batu bata.

Kebiasaan ini dilakukan, akibat mata pencaharian utama warga yaitu sebagai petani sawah harus terhenti lantaran minimnya pasokan air yang bersumber dari turunnya hujan.

Dari pantauan Tribunsumsel.com, Rabu (21/7/2021) siang. Hampir setiap keluarga bergotong-royong mengolah tanah liat (lempung) menjadi batu bata dengan cara yang masih tradisional.

Suprapto salah satu perajin yang sudah lebih dari sepuluh tahun membuat batu bata mengatakan, pembuatan bata dapat lebih cepat saat masuk musim kemarau.

"Memang di saat kemarau, mayoritas warga di sini beralih profesi menjadi pembuat batu bata," jelasnya kepada wartawan.

Diceritakannya, cuaca panas seperti ini sangat mendukung untuk melewati proses pembakaran dan pengeringan batu bata yang menjadi lebih cepat dari biasanya.

"Jadi setelah bata selesai dibentuk dan telah terkumpul sekitar 10.000 bata, selanjutnya akan melalui proses pembakaran agar bata menjadi keras,"

"Setelah dibakar, bata akan kembali dijemur dan dengan cuaca yang panas maka kualitas bata yang dihasilkan tentunya lebih kokoh dan tahan lama," ucap Suprapto.

Selain itu, di saat kemarau permintaan pelanggan dalam memesan batu bata juga lebih mengalami peningkatan.

"Iya belakang ini sudah banyak yang pesan, setiap pemesan biasanya membeli sebanyak 1 hingga 3 mobil truk batu bata," ujarnya penjualan bahkan sampai keluar Kabupaten OKI.

Lantaran usaha batu bata yang dijalani, pendapatan warga cukup besar dan mampu mencukupi biaya hidup sehari-hari.

"Jika dipukul rata-rata saya bisa menghasilkan hingga 250 buah bata, sedangkan untuk setiap bata siap jual di hargai Rp. 500. Jadi bisa mendapatkan uang sekitar Rp 100 – 130 ribu perhari," tandasnya.

Baca juga: Kapolda Harapkan Pengurus Masjid Jadi Garda Terdepan Ingatkan Prokes di Masjid

Ikuti Kami di Google Klik

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved