Balita Tewas Dianiaya Ayah Sambung
Sosok Periang, Balita 3 Tahun Tewas Diduga Dianiaya Ayah Sambung, Gendang Telinga Pecah
SA (28) ibu dari balita D yang meninggal diduga dianiaya ayah sambung di Palembang merupakan sosok anak yang periang.
Penulis: Melisa Wulandari | Editor: Yohanes Tri Nugroho
Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Melisa Wulandari
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - SA (28) ibu dari balita D mengatakan bahwa anaknya dari mantan suami kedua ini semasa hidupnya merupakan anak yang periang.
“Nakal ya nakal tapi kan namanya anak kecil hal wajar kalau nakal. Periang juga, main sana sini. Akrab sama siapa saja. Kalau kami mancing dia seneng banget,” kata SA (28) saat dibincangi Tribun, Senin (5/7/2021).
SA mengatakan dua anak dari mantan suami pertama dan keluarganya sama sekali tidak setuju SA menikah dengan JI.
“Keluarga saya bahkan anak saya dari mantan suami pertama saya tidak ada yang setuju, saya menikah dengan JI. Saya ketemu JI ini pas jualan kelapa di bawah jembatan Musi II dan menikah sama dia ini karena saya jujur sudah hamil duluan,” beber SA.
Dia sampai saat ini masih sedih karena semua keluarga JI menyalahkan dirinya padahal yang telah melakukan tindakan penganiayaan terhadap D adalah JI.
“Dalam hati saya, kenapa menyalahkan saya padahal JI yang melakukan penyiksaan terhadap anak saya. Sudah saya jelaskan semua ke kakak perempuan JI dan mereka ini tidak terima adiknya dibilang seperti ini,” jelasnya.
SA mengatakan sejak kematian balita D, keluarga JI sama sekali tidak ada kabar bahkan untuk sekedar melayat pun tidak sama sekali.
“Padahal dekat tempat tinggal kami, tapi mereka sama sekali tidak peduli dengan kematian anak saya,” katanya terlihat mengusap air mata.
Berita sebelumnya, SA (28) ibu dari balita D, balita yang diduga dianiaya oleh ayah sambungnya ini mengatakan suaminya JI (29) yang masih buron, berubah sejak dirinya melahirkan anak perempuan mereka.
“Saya dan JI sudah menikah 4 bulan, dari awal kenal, JI ini orangnya baik dan tidak pernah marah-marah tapi semenjak saya melahirkan anak kami berdua. Dia berubah jadi kasar,” kata SA saat dibincangi Tribun, Senin (5/7/2021).
SA mengatakan, dia dan JI menikah dibawah tangan dan selama 4 bulan menikah, JI yang merupakan seorang duda ini berubah drastis jadi sering marah marah dan melampiskan kepada anak sambungnya balita D.
“Gak tahu kenapa semenjak saya sudah lahiran itu JI ini emosinya tinggi banget, dia ini juga nyabu tapi gak main perempuan,” kata SA.
SA mengatakan balita D adalah anak dari suami keduanya.
“Saya ini sudah menikah sebanyak tiga kali, dan D ini anak saya dari suami kedua. Ikut saya sedangkan anak saya yang lain ikut neneknya,” ujarnya.
“Awal JI ini sering marah marah itu sebelum lebaran. Namun pernah suatu hari alm anak saya D duduk di kursi terus diangkat oleh JI karena saya takut D dibanting jadinya saya tarik lengan D sampai saling tarik menarik dengan JI,” beber SA.
Setelah tarik menarik, SA akhirnya bisa meraih D dan membawa alm anaknya ini masuk ke dalam rumah namun JI menarik bahu SA sampai terjatuh dan JI meninjak kali balita D.
“JI ini bukan malah khawatir dengan anak sambungnya (balita D) tapi justru marah dan bilang biarlah kaki D itu patah, meseng (BAB) disitulah, kencing disitulah daripada bejalan masih nyusahin orang,” kata SA.
Penganiayan tak sampai disitu saja, pada waktu yang bersamaan saat JI sedang naik pitam meninjak kaki balita D, JI juga melempar balita D dengan baskom berukuran sedang.
“Waktunya bersamaan setelah JI meninjak kaki anak saya, emosinya masih meluap luap dan melempar baskom berukuran kecil ke arah anak saya (balita D) sehingga mengenai telinga dan wajah,” jelasnya.
Gendang Telinga Pecah
Seorang balita di Palembang berinisil D (3 tahun), diduga korban penganiayaan, meninggal dunia, Sabtu (3/7/2021).
Balita D yang diduga dianiaya oleh ayah sambungnya sempat menjalani perawatan di rumah sakit.
Kasat Reskrim Polrestabes Palembang Kompol Tri Wahyudi mengatakan, balita D (3) meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Palembang BARI, Sabtu (3/7/2021) pada pukul 15.00.
Korban penganiayaan ini sempat menjalani perawatan intensif selama enam hari.
“Kami mendapatkan kabar dari RSUD Bari terkait balita D (3) telah meninggal dunia, dari informasi dokter spesialis anak di sana menerangkan bahwa ada infeksi tetanus, infeksi telinga sebelah kiri, gendang telinga yang pecah dan patah tulang di bahu yang sudah sembuh namun membuat kepala anak tersebut miring,” jelas Tri.
Tri mengatakan setelah kabar tersebut, pihaknya langsung mengurus jenazah balita D, dibawa ke rumah keluarganya di daerah Gandus, Palembang.
“Pada saat kami mengantar jenazah balita D ke rumahnya, ada ibunya di rumah datang dari Jalur, Banyuasin. Kemudian kami lakukan pemakaman untuk balita D dan ibunya sudah membuat laporan di Polrestabes Palembang. Sudah kami ambil keterangan juga,” bebernya.
Ibu dari balita D menerangkan kepada tim reskrim Polrestabes Palembang bahwa ayah sambungnya diduga sudah menganiaya balita D.
“Ibunya bilang sering terjadi penyiksaan terhadap balita D. Gendang telinga balita D itu pecah karena dipukul dengan baskom. Kami juga sudah berkordinasi dengan polres Banyuasin untuk kejadian ini kami sebarkan juga agar segera menindaklanjuti,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/sa-28-ibu-balita-3-tahun-curhat-terkait-anaknya-dianiaya-hingga-menghembuskan-nafas-terakhir.jpg)