Breaking News:

Perjalanan Mental, Spiritual Melawan Virus Corona

Meski telah menerapkan protokol Kesehatan dan telah mendapat vaksin, tetap saja virus corona adalah mahluk astral yang tidak kasat mata.

Editor: Vanda Rosetiati
DOKUMENTASI PRIBADI Adi Yanto (Penyintas Corona Virus Disease)
Adi Yanto (Penyintas Corona Virus Disease). 

Hari-hari itu lebih menyenangkan, badan mulai terasa ringan, pikiran tenang, deman dan pusing sudah lama berlalu. Nafsu makan saya pun sudah kembali seperti sedia kala. Kepada Adik yang memang setiap hari bekerja di rumah sakit itu saya minta dibawakan masakan rumahan. Ikan asin, tempe goreng hingga sambal buah saya lahap habis. Pagi itu saya telpon ibu mengabarkan keadaan. Dari balik telpon saya merasakan kebahagiannya mendengar keadaan yang makin membaik. Demikian dengan istri dan anak-anak yang turut mengungsi ke Palemabang hampir dua pekan ini. Sekali-sekali istri mengirim video lucu anak perempuan kami yang baru berusia 2 tahun dan kakaknya yang berusia 7 tahun. Kegirangan mereka menambah semangat saya untuk sembuh.

Bangkit, Pastikan Jiwa mu, Pikiran mu masih milik mu!
Para medis mengkategorikan tiga jenis orang yang menderita Covid, yaitu Orang Tanpa Gejala (OTG) atau tanpa keluhan berarti, menengah dengan gejala demam, sakit kepala, badan nyeri dan ketiga berat dengan gangguan pernapasan (pneumonia) sempurna sakitnya. Saya termasuk yang menengah. Apa pun gejalanya, intinya jika kita mengalami fase ke dua dan ketiga, kita tidak lagi memiliki tubuh kita. Tubuh kita sepenuhnya diambil alih oleh mister Covid-19. Lalu apa yang kita miliki lagi? Bukan tubuh tapi jiwa kita. Hanya itu yang masih bisa kita kendalikan. Jika gagal mengendalikan jiwa dan pikiran maka kita akan selesai atau bahkan berakibat lebih buruk lagi.

Data resmi pemerintah di Bulan Juni menyebut jumlah pasien yang meninggal setelah terpapar Covid-19 terus bertambah dibanding hari hari sebelumnya. Data pemerintah menunjukkan terdapat 335 orang meninggal akibat Covid-19 di medio Juni. Berdasarkan data tersebut saat ini jumlah total angka kemarian akibat Covid-19 mencapai 55.291 orang.
Berdasarkan pengamalaman saya mempraktikan teknik yang diajarkan pakar Emotional Spiritual Question (Kecerdasasan Spiritual) Ari Ginanjar Agustian, ada 5 (lima) langkah mental dan spiritual diluar upaya-upaya medis dan saran dokter.

Pertama, pastikan otak kita berada pada Alfa Mode, yaitu gelombong 7 sampai dengan 14 Hz. Gelombang damai dan tenang. Dua, hindari gelombang 13 sampai dengan 32 Hz yang membuat kita harus berpikir keras. Kita tidak perlu menjadikan diri kita analis penyakit dengan browsing tentang Covid-19 yang sedang kita derita. Dokter ahli saja memerlukan puluhan tahun untuk mempelajari suatu penyakit. Sementara pandemi Covid-19 ini jenis penyakit baru yang ditemukan di dunia. Tidak akan ditemukan oleh kita yang mengandalan paket data 3 atau 4 giga saja. Yang timbul justru rasa panik, khawatir, takut artinya kita sudah memaksakan otak kita pada gelombang gamma 32-100 Hz.

Dalam keadaan seperti maka mulai hindarilah media sosial What App dan lain sebagainya. Silahkan masuk ke dalam diri kita, tinggalkan dulu dunia sehari-hari kita. Beri pemahaman kepada orang sekitar bahwa kita sedang butuh waktu untuk menyembuhkan diri. Pekerjaan-pekerjaan di kantor hanya akan menambah beban dan memperlambat proses penyembuhan. Dukungan orang sekitar sangat dibutuhkan untuk kesembuhan penyintas Covid-19 dari sisi kejiwaan.
Bukan hanya berita-berita yang negatif, bahkan tayangan TV pun harus dipilih yang menyehatkan yang berada pada dimensi Alfa seperti kisah hewan, binatang, kisah perjalanan. Pastikan gelombang otak kita seperti air mengalir yang sejuk, dingin membasuh jiwa dan lebih jauh usahakan gelombang otak berada pada dimesi Teta lebih dalam dalam gelombang Alfa 4 hingga 3 Hz. Itu disebut Ari dengan gelombang otak Deep Meditioan

Saya mulai berzikir perlahan, tafakur menyesali diri, mengingat kekhilafan-khilafan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Waktu isolasi yang panjang adalah kesempatan untuk mempertajam sisi spiritual melalui kajian-kajian keagamaan online yang selama ini diabaikan. Mulai dari fikih wudhu yang benar, sholat yang khusuk hingga hati yang ihklas menjalani kehidupan selaku manusia.
Doa Al Maksurat yang di kirim Asisten I Setda OKI, H. Antonius Leonardo saya baca pagi dan petang agar makin tenang. Terbesit dalam benak saya mau Allah coba dengan ujian sehebat apa lagi yang bisa membuat pintu hati terbuka. Fabiaya Ala Irobbikuma Tukaziban demikian merdu penggalan surat Ar Rahman yang di bacakan Ustadz Hanan Attaki yang saya dengar agar bisa tidur lelap.

Berwudhu, munajat dan sholat adalah momen terindah untuk intropeksi diri. Mungkin selama ini ada hal-hal yang salah dalam hidup, rasa syukur yang kurang, sikap pongah dan ujub selaku manusia. Tidak ada pekerjaan dan persoalan yang tidak bisa kita selesaikan. Namun ketika mahluk Allah yang kecil, kasat mata bernama Covid-19 itu menggerogoti tubuh semua hilang, semua percuma dan sia-sia kita hanyalah mahluk lemah tanpa daya upaya tanpa pertolongan NYA.

Kesembuhan Spiritual
Berjuang jadi penyintas Covid bukan soal fisik dan urusan medis saja, lebih jauh yaitu adalah perperangan jiwa, mental dan spiritual. Dengan ketenangan dan mendekatkan diri, penyintas Covid bisa menerima setiap kondisi dengan penuh keyakinan melalui komunikasi vertical melalui keyakinannya. Jika kita bisa mengambil hikmah selaku penyintas Covid-19 maka itulah kesembuhan spiritual yang sebenarnya.

Pasien yang mengalami perawatan dalam penanganan inveksi Covid-19 memerlukan semangat dan daya juang untuk sembuh. Tidak hanya dapat dilakukan melalui perawatan fisik saja. Pendekatan spirutualitas sesuai agama yang dianut sangat membantu proses penyembuhan.
Metode yang mengintegrasi dimensi psikologis dan spiritualitas untuk penyembuhan (self Healing) memberikan efek ketenangan sehingga bisa menenangkan diri dari gejolak jiwa dan ketakukan. Kesendirian saat masa isolasi adalah dua sisi mata pisau yang berbeda. Jika salah menggunakannya maka akan jadi pisau yang membunuh penyitas Covid itu sendiri. Namun jika berhasil, dia akan menjadi senjata ampuh untuk mengalahkan Covid-19.
Lulus dan menjadi alumni Covid-19 bukanlah sebuah kebanggan, bukan juga kehinaan. Mengambil pelajaan dari setiap peristiwa paling utama. Bisa jadi Tuhan ingin menyentil kita agar kembali ke pada NYA melalui mahluk tidak kasat mata bernama Covid-19.

Ikuti Kami di Google Klik

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved