Breaking News:

Berita PALI

Cerita Sulastun, Pedagang Pasar Talang Kerangan PALI Tetap Bertahan Meski Pembeli Sepi

Pedagang yang baru menempati lapak di Pasar Talang Kerangan Kecamatan Talang Ubi PALI tetap bertahan meski pembeli masih sepi.

Editor: Yohanes Tri Nugroho
SRIPOKU/REIGAN
Kondisi pasar Tradisional Talang Kerangan Kecamatan Talang Ubi PALI yang masih sepi Pembeli 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALI -- Kondisi Pasar Tradisional Talang Kerangan, Kelurahan Talang Ubi Utara, Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sejak direlokasi bulan Maret 2021 lalu hingga kini masih sepi pedagang, apalagi pembeli.

Dari total 176 lapak dan 31 unit kios disediakan pemerintah Bumi Serepat Serasan, baru ditempati ada sebanyak 50 pedagang.

Sulastun warga Talang Pipa salah seorang pedagang di kios Pasar Talang Kerangan Kecamatan Talang Ubi mengaku tetap bertahan meski kondisi saat ini masih sepi. 

Dirinya mengaku optimis, kondisi sepi ini akan segera berakhir, apalagi akan segera dibangun perkantoran di areal Talang Kerangan. 

"Bertahan saja dulu, meski sepi dari pembeli. Tentu harapannya bisa rame, baik oleh pedagang maupun pembeli. Soal tempat, jauh lebih nyaman dan bersih dibandingkan dengan Pasar Baru Pendopo," ungkapnya, Senin (28/6/2021).

Sementara, Kepala Pasar Talang Kerangan, Sutriana mengungkapkan, bahwa dirinya kerap kali mengajak Pedagang Kaki Lima (PKL) di Pasar Baru Pendopo, yang sudah didata untuk pindah dan berjualan di Pasar Talang Kerangan. 

"Sampai saat ini, baru sekitar 50 pedagang yang mengisi di kios dan lapak yang ada di pasar Talang Kerangan." Katanya. 

Padahal, kata dia, sejak awal Maret 2021, Pemkab PALI sudah melarang PKL yang berjualan di trotoar dan bahu jalan di pasar Baru Pendopo dan sudah disiapkan tempat yang lebih nyaman dan bersih. 

Dirinya berharap pihak terkait untuk membantu mendorong PKL yang masih berjualan di trotoar dan bahu jalan Pasar Baru Pendopo, untuk relokasi berjualan di pasar Talang Kerangan.

 "Kalaupun memang, PKL tersebut tidak mau pindah, kami harap segera ada solusi dari pemerintah. Apakah lapak atau kios yang sudah didata atas nama PKL tersebut, diberikan kepada pedagang yang mau berjualan disini, atau lebih ditegaskan lagi kepada PKL," ujarnya.

Ia menyayangkan adanya nama PKL didata atas pemilik kios namun tak ditempati, bahkan diisi oleh bukan atas nama dari pemilik lapak.

"Soal rejeki, itu semua sudah diatur. Pastinya, kalau kondisi pasar tidak diisi oleh pedagang, bagaimana pasar tersebut mau ramai oleh pembeli. Dan lapak atau kios, bukan jenis investasi seperti tanah, kalau lapak atau kios tidak ditunggu, bagaimana pembeli mau beli." Katanya.

Baca juga: Hingga 30 Juni, Polres PALI Sediakan 675 Vaksin Tiap Hari untuk Warga, Berikut Persyaratannya

Hairil, SKom tokoh masyarakat Talang Ojan, Kelurahan Talang Ubi Utara, meminta agar pemerintah tegas mengambil sikap terhadap PKL pasar baru pendopo yang enggan direlokasi ke pasar Talang Kerangan. 

"Kalau memang mereka tidak mau, tidak jadi masalah. Tetapi, lapak dan kios atas nama mereka dicabut, diganti dengan pedagang yang mau berjualan di Pasar Talang Kerangan.

Kalau seperti ini terus kondisinya, yang ada terjadi mubazir akibat tidak memanfaatkan bangunan milik negara yang sudah dibangun oleh Pemerintah dengan biayanya yang sangat besar," katanya.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved