Breaking News:

Berita Internasional

Kesabaran Israel Telah Habis Terhadap Hamas Palestina, Israel Siap Bombardir Kembali

Kesabaran Israel terhadap Hamas Palestina telah habis. Hal itu diungkapkan oleh Perdana Menteri Israel Naftali Bennett.

Editor: Siemen Martin
MAHMUD HAMS / AFP
Ledakan menerangi langit malam di atas gedung-gedung di Kota Gaza saat pasukan Israel menembaki daerah kantong Palestina, pada awal 16 Juni 2021. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Kesabaran Israel terhadap Hamas Palestina telah habis.

Hal itu diungkapkan oleh Perdana Menteri Israel Naftali Bennett.

Bennet memperingatkan bahwa kesabaran Israel telah habis terhadap kelompok militan Palestina Hamas.

Bennett berbicara di sebuah acara untuk memperingati mereka yang tewas dalam perang 2014 di Jalur Gaza.

Ia berjanji bahwa pemerintahnya akan mengambil pendekatan yang lebih agresif, yaitu serangan terhadap Palestina.

“Musuh kami akan mengetahui aturannya: Kami tidak akan mentolerir kekerasan dan tembakan roket,” kata Bennett. "Kesabaran kita sudah habis,” katanya.

Dia juga mengatakan bahwa Palestina harus beradaptasi dengan persepsi baru tentang "inisiatif, agresivitas dan inovasi" dari Israel.

"Tidak ada niat untuk menyakiti mereka yang tidak bangkit untuk membunuh kami, dan kami tidak membenci mereka yang disandera oleh organisasi teroris yang kejam," kata Bennett.

Peringatan itu datang sebulan setelah Israel, di bawah pemerintahan mantan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menyetujui gencatan senjata dengan Hamas, setelah 11 hari kekerasan yang menewaskan lebih dari 240 warga Palestina, termasuk 63 anak-anak, dan 12 warga Israel tewas.

Pekan lalu Israel mengatakan menyerang kompleks militer di Gaza pada Selasa dan Kamis sebagai tanggapan atas balon pembakar yang katanya diluncurkan dari Palestina.

Bennett juga mengkritik pemerintah Netanyahu ketika dia berjanji untuk "melakukan segala yang kami bisa" untuk mengembalikan tawanan Israel dan sisa-sisa tentara dari perang 2014.

"Saya tahu Anda telah mendengar banyak janji dan kekecewaan selama bertahun-tahun," katanya. "Tapi sekarang ini pengawasan kami dan kami akan bertindak dengan tegas."

Netanyahu, yang sebelumnya berjanji untuk terus mengejar oposisi terhadap pemerintah Bennett, pada hari Sabtu setuju untuk meninggalkan kediaman perdana menteri di Yerusalem pada 10 Juli.

Netanyahu juga setuju untuk tidak mengadakan pertemuan resmi di kediaman itu setelah menjamu mantan Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, dan Pendeta John Hagee, pemimpin Kristen Bersatu untuk Israel, sehari setelah Bennett dilantik. (Tribunnews.com/UPI/TimesofIsrael/Hasanah Samhudi)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved